Membeli Masa Depan

Membeli Masa Depan

Posted by

Semua orang yang baru belajar sesuatu yang baru, pasti awalnya akan mengalami kebingungan.

Kalau yang dipelajari itu merupakan sesuatu yang kasat mata dan banyak dilakukan oleh orang lain, tentunya kebingungan yang terjadi hanyalah sebentar. Dikarenakan contohnya dapat dilihat langsung, serta banyak tempat untuk bertanya.

Seperti misalnya belajar naik sepeda atau belajar mengemudi mobil, maka dengan mudahnya kita dapat dengan cepat menemukan contoh berupa orang-orang yang sedang belajar naik sepeda atau belajar mengemudi mobil.

Andaikan bingung pun, yang ahli dan telah menguasainya juga sudah banyak sehingga orang-orang ini dapat dijadikan tempat untuk bertanya.

Tidak seperti halnya dengan belajar trading, yang tidak kasat mata karena dilakukan secara online dan masih sedikit yang menguasainya. Hal inilah yang menjadikan trading menjadi sulit untuk dipelajari. :)

Coba perhatikan dalam kehidupan ini bahwa kebanyakan orang, tidak peduli berapapun usianya atau latar belakang pendidikannya, selalu ingin belajar sesuatu yang baru dimana sesuatu ini dianggap akan berguna bagi hidupnya nanti.

Mereka ingin belajar naik sepeda, belajar mengemudi mobil, belajar bernyanyi, belajar memasak, belajar menjahit, belajar berburu, belajar menembak, belajar bahasa asing, belajar berpidato, belajar yoga, belajar menari, belajar acting, belajar memperbaiki kendaraan atau elekronik, belajar trading, dan lain sebagainya.

Perhatikan semua ilmu tersebut, apakah kesamaan diantaranya?

Kesamaannya adalah semua ilmu tersebut tidak diajarkan di sekolah formal, paling andaikan ada tempat untuk mempelajarinya maka tempatnya dinamakan kursus.

Ilmu-ilmu tersebut diatas tidak diperoleh dari pendidikan formal dan disebut sebagai ilmu keahlian (skill).

Tidak ada ijazah formal bila nantinya dinyatakan lulus. Paling yang diterima cuma sekedar sertifikat dan bukan ijazah.

Karena yang namanya keahlian adalah menempel di diri sendiri sehingga buat apa perlunya ijazah, toh bukti sudah atau belum jagoan bukan dibuktikan dari adanya ijazah, tetapi dibuktikannya dengan cara melakukan hal tersebut.

Oleh karenanya, seseorang yang merasa ahli memasak, tidak perlu pusing-pusing membawa setumpuk ijazah untuk melamar kerja ke sebuah restoran terkenal. Cukup buktikan saja apakah dapat menciptakan masakan yang bercita rasa lezat atau tidak.

Sama halnya kalau Anda mencari seorang supir, tidak perlu ambil pusing soal ijazahnya hanya sekedar lulusan SD atau SMP, cukup duduk saja disampingnya, biarkan dia mengemudikan mobil, kemudian nilai kemampuannya apakah memang benar-benar jagoan mengemudi atau tidak.

Keahlian merupakan kebalikan dengan sekolah formal.

Kalau dalam keahlian tidak diperlukan ijazah apapun, namun dalam sekolah formal maka ijazah sangatlah penting. Kalau tidak memiliki ijazah atau telah berhasil memiliki ijazah tetapi nilainya pas-pasan, maka sudah jelas akan sulit memperoleh pekerjaaan.

Kalau kurang yakin, coba saja ajukan lamaran kerja ke sebuah perusahaan besar dan pada surat lamaran nyatakan kalau diri Anda lulusan S3 dengan gelar Ph.D, tapi tanpa melampirkan ijazah apapun. Maka sudah jelas akan ditolak mentah-mentah. :))

Nah, dari penjelasan diatas sudah jelas bedanya antara keahlian dan pendidikan formal.

Pendidikan formal memerlukan ijazah sebagai buktinya, sebaliknya keahlian tidak perlu adanya ijazah karena ilmunya telah “menempel” di diri sendiri.

Padahal dalam kehidupan ini, seperti telah dijelaskan dalam artikel Rahasia Masa Depan, kalau Anda ingin masa depan yang cerah maka utamakan pembentukan keahlian (skill), dibarengi dengan pendidikan formal.

Bayangkan kalau diri Anda sangat ahli mengemudi, sangat ahli memasak, atau sangat ahli berburu, maka Anda tidak perlu repot melamar pekerjaan kesana kemari, justru orang lain yang malah “memburu” Anda dan berani membayar mahal keahlian yang Anda miliki.

Namun anehnya, dalam kehidupan sehari-hari yang terjadi justru kebalikannya.

Saat ini rata-rata orang malah lebih menginginkan memiliki gelar pendidikan formal daripada pembentukan keahlian. Sehingga masyarakat akhirnya memiliki persepsi kalau sudah berhasil menjadi sarjana maka akan mudah mencari pekerjaan dan hidupnya bisa menjadi lebih mapan.

Padahal kenyataan saat ini, banyak sarjana yang bekerjanya malah menjadi tukang ojek sebagai dampak ijazahnya tidak laku dimana-mana. :-D

Pemerintah pun juga sama saja, lebih peduli terhadap pengembangan pendidikan formal daripada pengembangan pendidikan keahlian.

Kalau hal seperti ini diteruskan berlarut-larut, maka akan sulit bagi negeri ini menjadi maju dikarenakan SDM yang dimiliki bukanlah SDM produktif yang siap memajukan ekonomi dan yang memiliki potensi untuk membuka lapangan kerja baru.

Seperti kita ketahui semua, adanya ijazah bukanlah jaminan. Bisa saja semua nilai dalam ijazahnya adalah A semua, tetapi begitu disuruh mengerjakan sesuatu malah sama sekali tidak bisa.

Nah, kalau yang nilainya sempurna saja belum tentu siap kerja, apalagi yang nilai ijazahnya amburadul dan ditambah lagi lulusan dari perguruan tinggi tidak jelas. Tentunya akan lebih parah lagi kualitasnya.

Oleh karenanya, jangan sombong dulu kalau Anda memiliki ijazah pendidikan formal setinggi langit dengan nilai sempurna. Karena pada hakekatnya tidak ada keahlian apapun yang melekat dalam diri Anda. :-D

Sesempurna apapun ijzah yang dimiliki, tetap saja ujung-ujungnya tidak mandiri karena harus kesana kemari melamar pekerjaan serta mengharapkan belas kasihan agar diterima bekerja. Nantinya pun kalau sudah berhasil diterima bekerja, meski setinggi apapun jabatannya, tetap saja menjadi orang suruhan karena harus patuh terhadap perintah boss kalau tidak ingin diberhentikan.

Berbeda bagi mereka yang memiliki keahlian, jauh lebih mandiri karena tidak perlu pusing melamar kerja. Mereka ini menghasilkan uang sendiri bermodalkan keahliannya, memiliki kehidupan yang lebih bebas dan mandiri karena tidak bergantung kepada siapapun, keahliannya dibutuhkan oleh banyak orang, bahkan mampu menciptakan lapangan kerja sendiri.

Dengan kenyataan seperti ini, maka hanya orang-orang yang memiliki keahlian saja yang lebih merajai dalam perekonomian dan memiliki masa depan yang lebih cerah.

Dengan kata lain, orang-orang yang memiliki keahlian menjadi “boss” atas dirinya sendiri.

Sebaliknya, orang-orang yang tidak memiliki keahlian karena hanya bermodalkan ijazah pendidikan formal saja maka untuk selama-lamanya hanya sekedar jadi “benalu” sebagai orang suruh-suruhan belaka karena yang menjadi “boss” atas dirinya sendiri adalah pimpinan di tempatnya bekerja sehari-hari. :-D

 

photo

 

Oleh karena itu, kalau Anda menginginkan masa depan cerah dan ingin menjadi “boss” atas diri Anda sendiri, maka milikilah keahlian dalam diri sedini mungkin.

Memiliki keahlian dapat diperumpamakan seperti memiliki uang untuk “membeli” masa depan.

Kalau sejak saat ini mulai sedikit demi sedikit “menabung” keahlian maka pada waktunya nanti Anda akan memiliki “uang” yang cukup untuk membeli masa depan cerah untuk diri Anda sendiri.

Oleh karenanya, sesulit apapun kondisinya, seterjal apapun jalannya, berusahalah untuk tetap tekun dan pantang putus asa menjalani proses untuk memperoleh keahlian.

Karena apa yang Anda jalani pada hakekatnya hanyalah sekedar proses “menabung” dikit demi sedikit agar nantinya mampu “membeli” masa depan yang lebih baik. :)

Kehidupan ini selalu berubah, tidak ada yang abadi selamanya.

Contoh sederhana, coba perhatikan ditengah-tengah kemacetan lalu lintas. Kalau saat ini Anda sedang naik motor, mungkin 5 – 10 tahun kemudian Anda akan berada ditengah-tengah kemacetan di jalan yang sama tetapi yang dikendarai sudah berubah menjadi BMW atau Mercedes.

Sebaliknya, Anda yang saat ini sudah mengendarai BMW atau Mercedes, kalau yang dilakukan selalu hal-hal yang tidak baik maka 5 – 10 tahun kemudian gantian Anda yang akan mengendarai motor atau bahkan metromini. :-D

Karena itu, sesulit apapun atau semakmur apapun kehidupan Anda saat ini, jaga langkah dan tindakan agar selalu melakukan hal yang baik. Karena melakukan hal yang baik seperti tidak sombong, tidak malas, tidak berbuat curang, tidak merusak kesehatan, maka masa depan yang baik pun secara tidak langsung sudah Anda “beli” dari sekarang.

Prinsip dalam kehidupan ini adalah kebalikan. Kalau ingin hidup enak nanti maka sejak sekarang Anda harus bersusah payah untuk membangunnya. Sebaliknya, kalau saat ini enak-enakan dan bermalas-malasan maka di masa depan nanti Anda harus bersusah payah untuk bertahan hidup. :)

Oleh karenanya selalu ingat pepatah berikut: Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.

Lebih baik susah payah sekarang agar nantinya dapat bersenang-senang. Daripada sebaliknya, bersenang-senang sekarang tetapi saat tua nanti harus bersusah payah.

Bahkan hal sekecil apapun harus dilakukan agar masa depan tidak rusak, seperti misalnya rajin menggosok gigi. Coba saja malas maka lama kelamaan gigi akan rusak dimana untuk perbaikan nantinya perlu biaya yang jauh lebih mahal.

Nah, contoh gosok gigi merupakan hal yang sepele. Namun bayangkan kalau malas melakukan sesuatu yang lebih besar (seperti: tidak “menabung” keahlian), maka dampak merusak masa depan juga akan jauh lebih besar.

Biasanya masa depan dirusak karena 3 sebab yaitu:

  • salah pilih
  • tidak berani memilih
  • benar memilih tetapi tidak setia

Contoh dari salah pilih adalah salah pilih suami atau istri, salah pilih sekolah, salah pilih pekerjaan, salah pilih investasi, salah pilih teman, dan lain sebagainya.

Kalau melakukan salah pilih, biasanya yang terjadi setelahnya adalah grafik kehidupan makin menurun. Lama kelamaan tidak bahagia, uang makin menipis, kesehatan makin menurun, dan hal lain semacamnya yang merupakan pertanda terjadinya salah pilih.

Nah, sekarang coba renungkan kehidupan Anda sendiri. Apakah akhir-akhir ini grafik kehidupan makin menurun atau naik? :-D

Kalau hal ini terjadi maka yang harus dilakukan adalah sesegera mungkin keluar dari kondisi tersebut dan membuat pilihan baru yang lebih baik. Namun fakta yang ada dalam kehidupan ini, tidak semua orang memiliki keberanian untuk keluar dari pilihan salah dan menempuh resiko untuk membuat pilihan baru. Hanya sedikit orang saja yang memiliki nyali untuk melakukannya. :-D

Perhatikan saja dalam kehidupan ini, ada suami atau istri yang disiksa pasangannya sendiri selama bertahun-tahun lamanya tetapi hanya diam dan pasrah. Tidak ada keberanian dalam dirinya untuk segera keluar dari kondisi tersebut dan berani menempuh resiko melakukan pilihan yang baru.

Demikian pula dalam trading, begitu terjadi salah entry, kebanyakan tidak mampu bereaksi dan hanya terpaku diam bingung harus melakukan apa. Padahal sudah jelas-jelas salah pilih, namun tidak dimiliki keberanian untuk segera keluar dari kondisi tersebut. :-D

Yang pasti kalau salah pilih diteruskan dan tidak berani membuat keputusan baru maka hasil akhirnya nanti akan menjadi jauh lebih buruk. :)

Yang berikutnya adalah tidak berani memilih. Biasanya dilakukan karena takut salah.

Tidak berani memilih jauh lebih buruk daripada salah pilih karena yang dilakukan hanya diam ditempat padahal waktu terus berjalan.

Ingat, hidup ini hanya sekali dan kalau Anda ingin nantinya sukses maka yang harus Anda lakukan adalah melakukan sesuatu dengan cara memutuskan untuk memilih, tidak peduli hasil nantinya benar atau salah.

Kalau pilihan benar maka syukurlah. Namun kalau salah maka Anda akan memperoleh pelajaran bagaimana yang benar sehingga pilihan berikutnya menjadi lebih baik daripada sebelumnya.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, salah memilih hanya mengakibatkan Anda tertinggal satu langkah. Namun kalau tidak berani memilih maka Anda telah tertinggal entah berapa langkah karena yang Anda lakukan hanya diam ditempat.

Salah dan benar dapat diibaratkan seperti 2 sisi sebuah koin. Kalau Anda putuskan untuk memilih maka Anda menjadi bagian dari koin tersebut. Namun kalau tidak berani memilih maka yang Anda lakukan hanyalah memandangi koin sambil terus berpikir-pikir, sedangkan koin tersebut terus berputar menjauh meninggalkan Anda. :)

Yang perlu dipahami, dalam kehidupan ini salah pilih adalah hal yang biasa terjadi. Yang perlu dilakukan bukanlah menghindari salah pilih, namun tetap melakukan pilihan tetapi dibarengi dengan manajemen resiko.

Artinya tetap lakukan pilihan tetapi tidak menggunakan seluruh sumber daya yang dimiliki. Dengan demikian kalau sampai terjadi salah pilih maka hidup Anda pun tidak sepenuhnya berantakan karena masih mampu untuk bangkit kembali menggunakan sumber daya yang tersisa.

Namun yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, banyak contoh yang kita lihat mempertaruhkan seluruh yang dimiliki tiap kali melakukan pilihan. Akibatnya, begitu ternyata disadari salah pilih maka hidupnya pun menjadi berantakan karena tidak ada lagi sumber daya yang tersisa untuk membantunya bangkit.

Oleh karena itu dalam melakukan trading selalu dikatakan pentingnya money management. Sepanjang diterapkan money management yang baik maka tidak masalah kalau sesekali salah entry. Toh modal masih tersisa banyak sehingga dapat digunakan untuk melakukan recovery.

Yang terakhir adalah benar memilih tetapi tidak setia.

Contoh dalam kehidupan sehari-hari, suami saat ini hidupnya pas-pasan dan sang istri tidak tahan ingin segera kaya sehingga akhirnya suami diceraikan. Padahal 10 tahun kemudian ternyata suami menjadi pemilik perusahaan besar dan menjadi kaya raya.

Contoh dalam trading, entry dilakukan namun karena takut nanti pergerakan harga tiba-tiba balik arah maka segera dilakukan TP. Namun yang terjadi, harga malah bergerak 100 pip sehingga potensi untuk memperolehnya pun hilang.

Melakukan “salah pilih” dan melakukan “benar memilih tetapi tidak setia” memiliki kesamaan satu sama lain yaitu dapat dinilai dari besarnya potensi.

Kalau salah pilih maka potensi makin menguntungkan di masa depan nanti jelas-jelas tidak ada. Justru kalau diteruskan maka kerugian makin besar akan timbul, oleh karenanya harus sesegera mungkin keluar dari kondisi tersebut untuk menjaga agar kerugian tidak makin membesar.

Namun kalau benar memilih, potensi di masa depan adalah besar karena makin lama ditekuni maka semakin banyak pula keuntungan yang diperoleh.

Oleh karenanya, biasakan mengira-ngira potensi sesuatu kalau Anda diharuskan untuk melakukan pilihan. Karena dari hasil kira-kira potensi tersebut maka dapat diketahui apakah yang akan dipilih merupakan pilihan yang benar atau salah.

Dari penjelasana diatas, akhirnya juga diketahui bahwa melakukan trading hampir sama saja dengan menjalani kehidupan ini. Oleh karena itu, kalau Anda sudah jagoan trading biasanya secara tidak langsung kehidupan sehari-hari pun akan menjadi lebih baik daripada sebelumnya.

Bukan karena uang dari trading yang akan membuat kehidupan menjadi lebih baik. Tetapi pola pikir serta perilaku Anda saat melakukan trading secara tidak langsung juga akan mempengaruhi dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena seperti kita ketahui bersama, tidak mungkin Anda dapat menjadi trader jagoan kalau pola pikir dan perilaku Anda buruk. :)

Seperti telah dijelaskan diatas, agar mudah memperoleh uang maka yang harus diutamakan adalah pembentukan skill.

Namun sejak kita semua lahir sampai nantinya mati, sebenarnya yang kita lakukan hanyalah 3 hal untuk “membeli” masa depan yang lebih baik yaitu:

  • Amal dan kebaikan
  • Kalau masih sekolah maka upayakan nilai setinggi mungkin
  • Sedangkan kalau sudah bekerja maka upayakan uang sebanyak mungkin

Seperti telah dijelaskan dalam beberapa artikel, saya sendiri bukanlah ahli agama sehingga penjelasan soal amal dan kebaikan berdasarkan keyakinan saya sendiri. :)

Amal, menurut definisi saya sendiri, adalah segala perbuatan baik yang dilakukan berdasarkan perintah agama. Sedangkan kebaikan adalah segala perbuatan baik yang dilakukan berdasarkan hati nurani, norma, dan etika.

Amal dan kebaikan ditempatkan di posisi teratas karena sejak kita lahir sampai mati nanti harus terus dilakukan. Sedangkan 2 hal lainnya dilakukan sesuai situasi kondisi yang dialami.

Melakukan amal dan kebaikan tidak ada perhitungan untung ruginya dan harus dilakukan sepenuhnya tanpa pamrih (atau seringkali disebut dengan ikhlas). Kalau dirasa harus berbuat baik, ya sudah lakukan saja dan jangan berharap imbalan apapun.

Yang perlu diingat, agar dapat panen buah maka haruslah ditanam pohonnya.

Melakukan amal dan kebaikan dapat diibaratkan menanam pohon tanpa mengharapkan adanya buah. Lakukan saja terus, tentunya lama kelamaan pohon tersebut akan makin tumbuh besar. Soal nantinya diberi buah atau tidak, serahkan saja pada Tuhan.

Karena dalam kehidupan ini ada 2 hal yang sangat kita butuhkan dari Tuhan yaitu adanya perlindungan dan adanya kemudahan. Bagaimana bisa 2 hal tersebut dapat diperoleh kalau tidak dengan melakukan amal dan kebaikan.

Bayangkan kalau tidak ada perlindungan, tentu saja sudah berkali-kali diri kita celaka. Namun coba perhatikan, seringkali Tuhan menyelamatkan kita meskipun sudah nyaris celaka. Itulah perlindungan dari-Nya.

Bayangkan juga kalau tidak diberi kemudahan, apapun yang kita lakukan akan selalu gagal karena dipersulit oleh Tuhan. Namun tentunya Tuhan tidak sekejam itu, banyak contoh yang kita lihat meski berkelakuan buruk pun tetapi oleh Tuhan masih diberi kemudahan dan rejeki.

Prinsipnya, agar perlindungan maupun kemudahan dari-Nya dapat diberikan terus menerus maka kita pun harus melakukan amal dan kebaikan terus menerus pula. Jangan sampai diri kita lupa melakukannya, kemudian Tuhan pun melupakan memberikan perlindungan serta kemudahan-Nya. :)

Sehingga dapat disimpulkan melakukan amal dan kebaikan merupakan salah satu cara untuk “membeli” masa depan.

Cara kedua yaitu kalau masih sekolah maka upayakan nilai setinggi mungkin.

Kehidupan ini dibentuk berdasarkan persaingan. Kalau di jaman purbakala dahulu, yang kuat selalu menang. Sedangkan saat ini, yang pintar yang akan menang.

Coba saja perhatikan, mana bisa melamar kerja dengan ijazah bernilai pas-pasan. Namun coba kalau yang melamar kerja ijazahnya dari perguruan tinggi terbaik dan nilainya pun sempurna, ya sudah jelas diterima.

Oleh karena itu bagi pembaca yang saat ini masih bersekolah, jangan pernah sepelekan nilai Anda. Karena kalau nilai Anda berantakan maka kemungkinan besar masa depan Anda pun akan berantakan pula dikarenakan ijazahnya tidak laku dimana-mana.

Itulah kenapa dikatakan kalau masih bersekolah maka upayakan nilai setinggi mungkin sebagai salah satu upaya untuk “membeli” masa depan.

Namun saat bersekolah kadang kala timbul persepsi salah yaitu kalau kuper maka nantinya tidak sukses. Sehingga akhirnya timbul slogan seperti ini: “Mau sukses? Jangan kuper” :-D

Memang masih banyak yang beranggapan seperti ini, beranggapan bahwa mereka yang gaul saja yang nantinya dapat sukses. Padahal tidaklah benar, banyak juga orang-orang kuper yang akhirnya menjadi sukses, bahkan menjadi pelopor dibidangnya masing-masing.

Seperti contohnya Bill Gates, penemu Microsoft yang menghabiskan banyak waktunya untuk bergumul dengan program-program komputer. Saking fokusnya dengan apa yang dikerjakan, dia jarang bertemu dengan orang dan melakukan interaksi sosial. Bill Gates semenjak kecil dikenal sebagai sosok yang tertutup, pendiam, dan kurang pergaulan.

Atau contoh lain adalah Albert Einstein, yang lebih suka mengurung diri di rumah membaca buku dan mengotak atik kalkulasi fisika, pendiam, dan kurang pergaulan.

Tuhan menciptakan kita dengan kehebatan masing-masing. Tidak ada orang yang tidak memiliki kehebatan, sebodoh apapun, pasti ada sesuatu yang hebat dalam dirinya. Namun jarang yang mampu melihat kehebatan orang lain dikarenakan kebanyakan orang lebih suka melihat kekurangan atau kelemahan milik orang lain. :)

Fakta yang ada dalam kehidupan ini, orang-orang yang kuper dan pendiam, lebih jarang menggunakan mulutnya untuk berbicara dikarenakan sudah cukup sibuk dengan otaknya yang berputar terus menerus. Oleh karenanya dalam kehidupan ini, yang pendiam dan kuper biasanya dikaruniai otak yang cerdas, sehingga sudah tidak sempat lagi untuk menggunakan mulutnya. :-D

Sebaliknya, orang-orang yang dikaruniai otak biasa-biasa saja atau bahkan pas-pasan, justru lebih sering menggunakan mulutnya untuk berbicara. Mungkin karena otaknya lebih stabil diam dan jarang muter kali ya, sehingga memiliki lebih banyak waktu untuk lebih sering menggunakan mulutnya. :))

 

10257885_10152715186809881_7097659607037861464_n

 

Oleh karenanya, kalau Anda merasa kurang bisa bergaul maka asahlah sisi lain dalam diri Anda yang paling menonjol. Karena dengan demikian, meski kuper pun maka orang lain tetap membutuhkan keahlian yang Anda miliki. :)

Apalagi kalau Anda ingin menjadi trader, mana bisa cepat ahli kalau kerjaannya kelayapan melulu gaul sana-sini dan jarang memantau chart di monitor. :-D

Cara ketiga yaitu kalau sudah bekerja maka upayakan uang sebanyak mungkin.

Uang bukanlah segalanya karena tidak semua dapat dibeli dengan uang. Mana bisa membeli istri atau suami yang baik dan setia dengan uang. Yang ada paling-paling dapat suami atau istri yang matre dan tidak setia, begitu uang habis maka abang pun dibuang. :-D

Namun uang dapat membuat kehidupan lebih baik serta dapat memperpanjang langkah.

Dengan uang maka anak-anak dapat berkesempatan memperoleh pendidikan yang terbaik, dapat tinggal di rumah yang lebih aman dan sehat, pergi kemana-mana menggunakan mobil yang lebih aman, dan berbagai hal lainnya yang dapat membuat kehidupan menjadi lebih baik, aman, dan nyaman.

Selain itu, dengan adanya uang maka langkah pun makin panjang. Coba bandingkan si A yang memiliki uang hanya 100 ribu dengan si B yang memiliki uang 10 juta, dan keduanya hendak pergi dari Jakarta ke Medan. Tentunya langkah si B akan menjadi lebih panjang dari si A karena si B hanya perlu 2 jam saja untuk sampai sedangkan si A perlu seminggu untuk sampai.

Nah, itulah gunanya memiliki uang yang banyak. :)

Namun di negeri ini masih banyak timbul persepsi salah yaitu “buat apa banyak harta, toh nanti kalau mati tidak bawa apa-apa” atau “buat apa banyak uang kalau tidak bahagia”

Memang benar kalau nantinya mati tidak membawa apa-apa, tetapi tidak inginkah Anda meninggalkan warisan yang banyak agar anak cucu yang ditinggalkan dapat memiliki kehidupan yang lebih baik daripada Anda sendiri.

Memang benar dengan banyak uang belum tentu bahagia, namun bukankah kalau tidak ada uang maka akan lebih banyak masalah. Mana bisa bahagia kalau masalah yang timbul sudah banyak. :-D

Contoh sederhana, coba perhatikan negara-negara yang kaya seperti US atau Eropa dan bandingkan dengan negara-negara miskin di Afrika. Lebih banyak masalah yang mana?

Kemiskinan selalu menyebabkan lebih banyak masalah. Oleh karenanya, tidak mungkin bisa bahagia kalau tidak dimiliki uang yang cukup. Justru dengan adanya uang maka masalah pun menjadi lebih sedikit dikarenakan apa yang diinginkan dapat terpenuhi.

Oleh karena itu, kalau Anda sudah bekerja maka upayakan memperoleh uang sebanyak mungkin. :)

Jangan pernah bekerja atas dasar “pengabdian” dan akhirnya mau digaji kecil.

Kalau Anda ingin mengabdi maka jangan lakukan dengan bekerja tetapi jadilah ustad, pendeta, pastur, atau biksu karena dengan cara seperti ini maka Anda akan sepenuhnya mengabdi ke Tuhan.

Atau cara lain dengan mengabdi ke negara, namun mengabdi ke negara hanya boleh dilakukan pada saat kondisi negara sedang genting, misalnya terjadi peperangan. Kalau kondisi aman damai sentosa, maka yang pantas dilakukan hanyalah mengabdi ke Tuhan. :)

Kata pengabdian sebenarnya asalnya dari jaman penjajahan Belanda yang gunanya untuk membodohi agar bersedia digaji kecil atau bahkan agar bersedia sama sekali tidak dibayar maka digunakanlah kata pengabdian sebagai suatu cara untuk “cuci otak”.

Selain itu, mana ada orang mengabdi ke orang lain. Semua orang adalah sederajad di mata Tuhan sehingga sangatlah tidak pantas kalau seseorang mengabdi ke orang lain.

Seseorang mengabdi ke orang lain adanya hanya pada jaman perbudakan saja, sedangkan kita semua sudah hidup di jaman modern dimana sudah tidak ada lagi perbudakan sehingga sudah sepantasnya pula pengabdian juga dihapuskan.

Di jaman modern ini, tujuan orang bekerja adalah untuk memperoleh uang. Oleh karenanya jangan campuradukkan dengan pengabdian.

Karena tujuannya uang maka sudah sepantasnya kalau bekerja diberi imbalan yang sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan.

Namun seperti telah dijelaskan dalam artikel Rahasia Masa Depan dan Cara Menjadi Kaya: Winner vs Loser, untuk menjadi kaya tidak dapat dilakukan dengan menjadi pegawai dikarenakan yang namanya gaji selalu terbatas, Anda harus membuka bisnis sendiri menggunakan keahlian (skill) yang dimiliki.

Coba pikir sendiri, selain profesi-profesi keahlian seperti dokter, akuntan, pengacara, notaris, mana bisa membuka bisnis sendiri dengan hanya bermodalkan ijazah?

Nah, tidak akan pernah bisa khan. :-D

Hampir semua bisnis selalu bermodalkan keahlian (skill), mulai dari bisnis terkecil seperti service motor sampai bisnis terbesar seperti pengelolaan keuangan. Oleh karena itu, upayakan untuk memperoleh skill sedini mungkin agar suatu hari nanti Anda bisa membuka bisnis sendiri dan hidupnya menjadi lebih mapan.

Kenapa harus dicari uang sebanyak mungkin?

Kalau ingin menjadi kaya maka yang harus dilakukan adalah mengupayakan penghasilan yang jauh lebih besar daripada pengeluaran.

Tidak mungkin menjadi kaya raya karena pengeluaran dihemat-hemat. Andaikan bisa pun, saat kaya nanti sudah klenger dan kurus kering. Bagaimana tidak kurus kering kalau makan dihemat hanya 3 hari sekali, minum hanya segelas sehari, rumah gelap gulita karena listrik dihemat, dan berbagai cara penghematan lainnya. :))

Seperti yang sering kita tonton bersama di televisi perihal saran-saran dari konsultan pengelola keuangan dimana selalu menyarankan agar dilakukan penghematan pengeluaran dengan cara melakukan manajemen keuangan yang tepat. Kalau menonton acara ini, terus terang saya menjadi tertawa sendiri.

Karena pada hakekatnya, penghematan hanyalah sekedar solusi sementara. Fakta dalam kehidupan ini, kenaikan harga jauh lebih cepat pertumbuhannya daripada kenaikan gaji.

Sehingga kalau yang dilakukan hanya penghematan melulu (sesempurna apapun manajemen keuangannya) tanpa berusaha mencari alternatif penghasilan lain, maka sudah jelas suatu hari nanti akan jebol juga dikarenakan pertumbuhan harga jauh lebih cepat.

Itupun kalau yang dipertimbangkan hanya pertumbuhan harga, belum lagi masalah inflasi, belum lagi kalau anak makin tumbuh besar dimana perlu biaya yang lebih banyak, belum lagi usia yang bertambah tua sehingga potensi sakit menjadi lebih besar, dan lain sebagainya.

Boleh-boleh saja dilakukan penghematan tetapi hanya sekedar sebagai solusi sementara, sedangkan solusi permanennya adalah memperbesar penghasilan.

Demikian pula dengan negara, kalau ingin menjadi negara maju maka solusinya bukanlah dengan cara melakukan penghematan disana-sini atau berhutang kesana-kemari, tetapi berusaha memperbesar penghasilan pajak dengan cara lebih meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui pembangunan infrastruktur serta SDM.

Oleh karena itu bagi yang sudah bekerja, mulailah untuk membangun skill guna memperbesar penghasilan. Membangun skill bukanlah hal yang mudah karena perlu waktu lama dan harus melalui proses jatuh bangun.

Apalagi skill dalam trading forex yang merupakan skill kelas dunia dikarenakan tradernya dari seluruh penjuru dunia. Membangun skill kelas dunia perlu waktu yang lebih lama daripada membangun skill kelas kampung. :-D

Seperti tertulis dalam gambar dibawah ini, perlu 10 ribu jam untuk membangun skill kelas dunia.

 

Gladwell-10000-hours1

 

Membangun skill bukanlah hal mudah, karena diperlukan ketekunan berlatih terus menerus untuk memprogram otak maupun reflek. Sehingga saat nantinya skill sudah melekat dalam diri maka hanya dengan melihat sekilas, otak maupun reflek sudah dapat menganalisa dan bereaksi dengan benar.

Namun jangan putus asa dahulu dengan lamanya, fokus pada hasilnya. Kalau Anda mampu membangun skill kelas dunia maka hasilnya pun akan kelas dunia pula yaitu luar biasa besarnya. :-D

Kalau Anda merasa berat belajar trading dan sering berkeluh kesah, bandingkan diri Anda dengan tukang ojek atau tukang parkir di pinggir jalan yang harus bersusah payah berpanas-panasan demi imbalan yang nilainya tidak seberapa.

Anda jauh lebih beruntung daripada mereka, yang Anda lakukan tidak perlu berpanas-panasan, bahkan berkeringat pun juga tidak. :-D

Yang harus dilakukan hanya duduk diam di depan monitor, menganalisa pergerakan harga, kemudian melakukan entry dan exit yang benar. Hasilnya pun sangat lebih besar daripada tukang ojek atau tukang parkir.

Oleh karenanya jangan pernah merasa berat, karena dalam kehidupan ini banyak sekali pekerjaan lain yang jauh lebih berat dan juga memiliki resiko yang jauh lebih besar tetapi nilai imbalannya tidak sebanding. :)

Selain itu yang juga perlu diingat, situs ini hanyalah sekedar berfungsi sebagai peta penunjuk jalan.

Nanti sampai ke tujuan atau tidak, sepenuhnya tergantung kepada Anda sendiri apakah bersedia berupaya bersusah payah menempuh rute yang sudah ditunjukkan atau tidak. :)

Karena kesuksesan pada hakekatnya terdiri dari 4 faktor yaitu:

  • Mengetahui tujuan akhir
  • Mengetahui rute yang harus ditempuh
  • Sabar menjalani prosesnya dan pantang putus asa serta tekun menapaki rute tersebut
  • Adanya restu Tuhan

Empat faktor diatas berkaitan satu dengan yang lainnya dan tidak dapat dipisah-pisahkan. Yang diberikan oleh situs ini hanyalah butir 1 dan 2, sedangkan selebihnya sepenuhnya tergantung kepada upaya maupun doa Anda. :)

Akhir kata, semoga artikel ini dapat memberi manfaat serta memmbuka wawasan para pembaca setia situs ini.

 

6 Comments

  1. irfansyah says:

    Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) menjadi trader, hahaha

  2. Sekedar untuk menambah wawasan:

    1. Average people think MONEY is the root of all evil. Rich people believe POVERTY is the root of all evil.

    2. Average people think selfishness is a vice. Rich people think selfishness is a virtue.

    3. Average people have a lottery mentality. Rich people have an action mentality.

    4. Average people think the road to riches is paved with formal education. Rich people believe in acquiring specific knowledge.

    5. Average people long for the good old days. Rich people dream of the future.

    6. Average people see money through the eyes of emotion. Rich people think about money logically.

    7. Average people earn money doing things they don’t love. Rich people follow their passion.

    8. Average people set low expectations so they’re never disappointed. Rich people are up for the challenge.

    9. Average people believe you have to DO something to get rich. Rich people believe you have to BE something to get rich.

    10. Average people believe you need money to make money. Rich people use other people’s money.

    11. Average people believe the markets are driven by logic and strategy. Rich people know they’re driven by emotion and greed.

    12. Average people live beyond their means. Rich people live below theirs.

    13. Average people teach their children how to survive. Rich people teach their kids to get rich.

    14. Average people let money stress them out. Rich people find peace of mind in wealth.

    15. Average people would rather be entertained than educated. Rich people would rather be educated than entertained.

    16. Average people think rich people are snobs. Rich people just want to surround themselves with like-minded people.

    17. Average people focus on saving. Rich people focus on earning.

    18. Average people play it safe with money. Rich people know when to take risks.

    19. Average people love to be comfortable. Rich people find comfort in uncertainty.

    20. Average people never make the connection between money and health. Rich people know money can save your life.

    21. Average people believe they must choose between a great family and being rich. Rich people know you can have it all.

     

    Dikutip dari: 21 Ways Rich People Think Differently

    • suryadharma says:

      13. Average people teach their children how to survive. Rich people teach their kids to get rich.
      No 13 walau katanya sial, kalimatnya mengingatkan pada sebuah buku karangan Robert Kiyosaki berjudul: Rich Dad, Poor Dad: What the Rich Teach Their Kids About Money – That the Poor and the Middle Class Do Not!
      Tetapi secara garis besar semua itu ada di dalam buku tersebut :-D
      :) :) :) :)

  3. Mau kuper atau gaul intinya sesuatu yg datang dari Tuhan semuanya baik,
    tidak ada yang buruk. Yang buruk selalu berasal dari diri kita sendiri…
    So mau kuper atau gaul tidak menghalangi seseorang untuk sukes.

    Kalau memang Tuhan mengkondisikan diri kita tidak suka kumpul-kumpul,
    tidak suka pesta-pesta, hura-hura ya mau gimana lagi.
    Tinggal sesuaikan dengan keadaan diri kita, misalnya dengan bekerja di laboratorium, penjaga kamar mayat, penggali kubur. :))

    Ibarat kita menumpang kapal layar tujuan ke barat tapi angin bertiup ke timur, yang bisa kita lakukan hanya membetulkan layar kapal atau merubah posisi layar agar kapal tetap mengarah ke barat.

    Bukannya menyerah kepada angin yang membawa kita ke timur… apalagi memaksa angin untuk bertiup ke arah barat… :-D

    Nice article…! thx for sharing… :)

  4. Penambah semangat bagi trader yang harus setia dengan keahliannya, namun jangan pernah puas dengan apa yang sudah di dapatkan sekarang karena inovasi harus terus dibuat tanpa harus meninggalkan budaya yang sudah ditanam dari awal, thanks atas artikelnya semoga tetap menjadi inspirasi bagi trader. GBU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

insert image dalam comment (JPEG only)