Fed Quantitative Easing

Fed Quantitative Easing

Posted by

Hampir sama seperti halnya rumah tangga, sebuah negara bila menginginkan lebih maju, lebih damai, dan lebih tidak banyak masalah maka yang harus diutamakan adalah pembangunan ekonominya.

Coba perhatikan sebuah rumah tangga yang ekonominya morat marit, tentunya akan jauh lebih banyak masalah daripada yang berkecukupan.

Karena serba kekurangan biasanya pemicu masalah kecil cepat berkobar menjadi masalah besar karena emosinya menjadi terlalu sensitif akibat menahan perut lapar atau akibat adanya kebutuhan vital lain yang tidak dapat terpenuhi.

Prinsip dalam kehidupan ini, masalah pada umumnya timbul karena diawali oleh adanya kekurangan.

Buruh demonstrasi akibat merasa upahnya kurang akibat harga yang makin melambung tinggi. Banjir timbul akibat kurangnya pembuangan air. Longsor timbul akibat kurangnya pepohonan yang menahan tanah tersebut. Nilai sekolah buruk karena kurang belajar. Trading mengalami loss karena kurang ahli. Perceraian timbul akibat salah satunya merasa kurang dicintai. Anak berkelakuan buruk akibat kurang perhatian dan kurang disayangi.

Oleh karena itu, dalam rumah tangga yang kondisi ekonominya morat marit pada umumnya selalu banyak masalah. Jangankan dapat memikirkan untuk lebih mencintai pasangan, atau untuk lebih memperhatikan anak, hanya memikirkan masalah ekonomi saja sudah puyeng tujuh keliling. :-D

Sama saja dengan sebuah negara, bagaimana bisa memikirkan kesejahteraan rakyatnya kalau kondisi perekonomiannya saja masih buruk.

Jadi, jangan heran kalau melihat seorang guru nyambi menjadi tukang ojek. Efek dari perekonomian yang buruk biasanya dampaknya berantai, karena sang guru akhirnya tidak bisa fokus mendidik murid, kalau dirinya sendiri saja masih kekurangan sehingga terpaksa harus ngojek. Kalau ini terjadi, maka dampaknya ke anak didiknya karena bagaimana bisa pintar kalau gurunya saja tidak fokus mengajar.

Kalau hal seperti ini diteruskan maka akhirnya perlahan-lahan negara tersebut akan mengalami kemunduran, baik kemunduran ekonomi maupun kemunduran sumber daya manusia.

Itulah pentingnya kenapa sebuah rumah tangga atau sebuah negara harus mengedepankan pembangunan ekonomi terlebih dahulu diatas segalanya. Dengan ekonomi makmur maka hal lain akan menjadi lebih mudah. Membangun bendungan tidak lagi pusing darimana dananya, mensejahterakan rakyatnya dengan pengobatan gratis maupun pendidikan gratis juga tidak pusing.

Sayangnya yang terjadi di negeri ini malah sebaliknya, pembangunan ekonomi tidak dikedepankan tetapi obral janji pengobatan dan pendidikan gratis malah diutamakan. :-D

Kalau hal ini diteruskan, maka lambat laun yang akan terjadi adalah bangkrut sendiri karena membiayai sesuatu yang lebih besar pasak daripada tiang.

Pembangunan ekonomi sebuah rumah tangga ditentukan oleh sikap dan tindakan kepala rumah tangga (bukan istrinya). Demikian pula pembangunan ekonomi sebuah negara, ditentukan oleh kepala negara (bukan menterinya :) ).

Kalau kepala rumah tangga atau kepala negara tidak ambil pusing dengan pembangunan ekonomi, sekaya apapun rumah tangga atau negara tersebut tentunya lambat laun akan jatuh miskin. Nah, kalau sudah terjadi seperti ini biasanya akan memicu masalah selanjutnya yang jauh lebih besar yaitu perceraian atau perpecahan.

Itulah kenapa sangat penting memilih kepala rumah tangga maupun kepala negara yang fokus kepada pembangunan ekonomi. Agar kita semua dapat menjadi lebih sejahtera dan tidak banyak masalah di masa mendatang.

Pembangunan ekonomi yang baik bukan diawali dengan mensejahterakan rakyat dengan memberi bantuan uang. Tetapi harus diawali dengan memberi “kail” yaitu berupa pembangunan infrastuktur terlebih dahulu.

Kalau jalan mulus dan tidak macet, maka laju perputaran barang maupun manusia makin cepat sehingga roda ekonomi pun berputar makin cepat. Kalau dibangun bendungan yang mampu menahan banjir maka kerusakan panen akibat banjir dapat dihindari. Kalau dibangun jembatan antar pulau maka distribusi barang pun makin cepat sehingga ekonomi dapat berputar lebih cepat.

Selain itu, pembangunan infrastruktur memiliki efek jangka panjang. Misal dibangun bendungan atau jembatan maka sampai anak cucu pun akan turut menikmatinya. Berbeda bila fokusnya adalah bantuan berupa uang, maka efeknya hanya sementara yaitu hanya saat itu saja dan setelahnya tidak berbekas.

Oleh karenanya, menilai seorang pemimpin yang baik atau tidak dapat dilihat dengan apa yang dilakukannya.

Kalau yang dilakukan sejak awal adalah membangun infrastruktur maka pemimpin tersebut adalah baik karena berpikir demi kesejahteraan jangka panjang (seperti DKI Jakarta saat ini :) ). Sedangkan kalau yang dilakukannya hanya buang uang untuk kepentingan jangka pendek, maka sudah jelas tidak akan mensejahterakan untuk jangka panjang nanti.

Seperti kita ketahui semua, USA pada tahun 2008 mengalami krisis perekonomian parah. Agar dapat bangkit kembali maka pada saat itu pemerintah membangun banyak sekali infrastruktur baru seperti jalan, jembatan, sekolah, dan masih banyak lagi.

Tujuan utama pembangunan infrastruktur ini selain untuk menyerap tenaga kerja untuk jangka pendek (selama saat krisis terdalam) tetapi di sisi lain juga untuk jangka panjang yaitu bila pembangunan tersebut telah selesai maka dapat menopang laju perekonomian nantinya karena dapat bergerak lebih kencang daripada sebelumnya.

Namun agar perekonomian dapat kembali berputar, pembangunan infrastruktur saja tidaklah cukup. Harus dibarengi dengan adanya kebijakan moneter maupun fiskal.

Kebijakan fiskal adalah kebijakan yang dibuat pemerintah untuk mengarahkan ekonomi negara melalui pengeluaran pemerintah (APBN) dan peraturan perpajakan.

Misalnya, dibuat kebijakan setiap harinya seluruh pegawai negeri harus menggunakan baju batik yang dibeli dari dana APBN dan untuk mendukung kebijakan tersebut maka impor baju kemeja diperketat. Maka industri batik dalam negeri akan melesat karena adanya pembelian dari pemerintah dan tarif pajak impor untuk baju kemeja dinaikkan agar harganya jauh lebih mahal daripada batik.

Sedangkan kebijakan moneter bertujuan memperlambat atau memperlaju perekonomian dengan cara mengontrol tingkat bunga dan jumlah uang yang beredar.

Selama ini penerapan kebijakan moneter di Indonesia pada umumnya hanya dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu tingkat inflasi dan nilai tukar Dollar.

Kalau tingkat inflasi meningkat, maka tingkat suku bunga dinaikkan oleh Bank Indonesia dengan tujuan agar uang disimpan kembali ke dalam bank. Dengan demikian maka belanja masyarakat akan berkurang sehingga tingkat inflasi menjadi turun daripada sebelumnya.

Sebaliknya kalau tingkat inflasi rendah, maka tingkat suku bunga diturunkan dengan harapan masyarakat enggan menyimpan uang di bank. Dengan imbal hasil bunga bank tidak lagi menarik maka masyarakat akan cenderung membelanjakan atau menginvestasikan uangnya. Sehingga dengan adanya lebih banyak uang yang beredar maka roda perekonomian akan menjadi lebih kencang dan pertumbuhan ekonomi pun meningkat.

Demikian pula kalau nilai tukar Dollar naik, biasanya akan dilakukan peningkatan suku bunga. Dengan cara ini maka masyarakat menjadi lebih tergoda menyimpan uang dalam bentuk Rupiah daripada menukarkan ke Dollar (yang dampaknya dapat membuat nilai Rupiah makin terpuruk).

Nah, dari penjelasan diatas, akhirnya diketahui bahwa indikator sebuah perekonomian tumbuh atau tidak patokannya pada tingkat inflasi.

Inflasi adalah kondisi dimana lebih banyak uang yang beredar daripada jumlah barang dan jasa. Karena lebih banyak uang yang beredar maka nilai uang menjadi cenderung turun. Contoh, membeli 1 kg beras setahun lalu harganya Rp 10 ribu, sedangkan saat ini beras yang sama nilainya Rp 11 ribu.

Karena nilai uang cenderung turun, maka akan mendorong masyarakat untuk memproduksi barang dan jasa (karena harganya yang selalu meningkat), cenderung berbelanja karena takut nilai barang tersebut nantinya makin mahal, serta mendorong masyarakat untuk melakukan investasi (contoh, membeli tanah karena nilainya yang selalu meningkat agar terhindar dari efek penurunan nilai akibat inflasi).

Sehingga karena perilaku masyarakat cenderung berproduksi, berbelanja, serta berinvestasi maka roda perekonomian pun berputar.

Berbeda bila perilaku masyarakat senangnya hanya menabung di bank, akibatnya akan timbul deflasi.

Deflasi adalah kebalikan dari inflasi yaitu lebih banyak barang dan jasa daripada jumlah uang yang beredar. Deflasi merupakan indikator terjadinya kemunduran ekonomi dikarenakan ekonomi sama sekali tidak berputar dikarenakan uang terhenti di bank.

Tingkat inflasi yang terkontrol (biasanya dibawah 10% untuk negara berkembang, sedangkan negara maju berkisar 2-3%) adalah hal wajar karena menunjukkan bahwa roda ekonomi berputar kencang dan ekonomi sedang bertumbuh.

Akan tetapi kalau inflasi tidak terkontrol (seperti di Venezuela baru-baru ini yang melonjak sampai 56%), tentunya juga akan menghancurkan ekonomi dikarenakan pertumbuhan daya beli masyarakat tidak seiring dengan kenaikan harga barang. Kalau barang maupun jasa tidak ada yang beli karena harganya terlalu mahal, tentunya ekonomi akan hancur.

Kalau tidak ada yang beli maka pabrik dan perusahaan pun bangkrut. Kalau hal ini terjadi maka uang di bank tidak dapat disalurkan dalam bentuk kredit ke pabrik maupun perusahaan. Nah, kalau tidak ada kredit yang dikucurkan maka bagaimana bank mampu membayar bunga simpanan nasabahnya.

Sepanjang tingkat inflasi dijaga tidak sampai melebihi pertumbuhan daya beli masyarakat (pertumbuhan ekonomi), maka adanya inflasi justru sangat baik bagi perputaran roda ekonomi.

 

Mumpung Tradingnya masih anak SMA, saya usul nih pak Anton minta di ulas masalah QE, Taperring Off, Surat Obligasi dan kebijakan2 FED yang sampai saat ini saya masih binggung menterjemahkan dari situs lain.

Iwan Martha – comment

 

Sengaja diberikan penjelasan panjang lebar terlebih dahulu agar dapat lebih mudah dipahami sebelum menjawab pertanyaan dari Pak Iwan. :)

Dari penjelasan diatas tentunya sekarang sudah paham bahwa makin banyak uang yang beredar maka makin baik untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi (asalkan tetap terkontrol dan tidak berlebihan, agar tidak terjadi hyper inflasi).

Alat yang digunakan oleh bank sentral untuk mengontrol jumlah uang beredar adalah tingkat suku bunga.

Tingkat bunga dinaikkan maka akan menjadi lebih sedikit uang yang beredar (karena lebih menarik untuk disimpan di bank). Sedangkan kalau tingkat bunga diturunkan maka akan menjadi lebih banyak uang yang beredar karena tidak menarik lagi untuk disimpan di bank akibat imbal bunga yang diperoleh sangat rendah.

Federal Reserve (The Fed) atau Bank Sentral Amerika dalam rangka meningkatkan pertumbuhan laju ekonomi berusaha memperbanyak jumlah uang yang beredar dengan merendahkan tingkat suku bunga sejak tahun 2008 (sejak krisis ekonomi).

 

 

 

Seperti terlihat pada gambar diatas, awal tahun 2008 tingkat suku bunga Dollar berkisar antara 4% dan saat ini hanya 0% sampai dengan 0,25%.

Penentuan tingkat suku bunga oleh The Fed dalam forex seringkali disebut sebagai berita FOMC. Bila ingin mempelajari lebih lanjut perihal Forex Economic Calendar, dapat dibaca pada artikel ini: Forex Economic Calendar

Sebagai bukti bahwa tingkat suku bunga tersebut diikuti oleh bank di seluruh dunia, berikut dibawah ini perbandingan tingkat suku bunga Deposito Dollar dari Bank BCA dan BTN.

 

 

 

Anggap saja Anda menyimpan uang senilai 1 milyar Rupiah dalam bentuk Deposito Dollar maka penghasilan bunga yang diterima hanya sebesar 3 juta Rupiah dalam setahun (suku bunga 0,3%) atau hanya 500 ribu Rupiah setahun (suku bunga 0,05%). Itupun masih harus dipotong pajak deposito, sehingga jumlah yang diterima menjadi lebih kecil lagi.

Terlihat dari ilustrasi diatas, Fed memang sengaja membuat tingkat suku bunga menjadi sangat rendah (bahkan mendekati 0%) dengan tujuan agar masyarakat tidak tertarik untuk menyimpan Dollar di bank. Tujuannya untuk mendorong agar uang tersebut digunakan untuk berproduksi, berbelanja, atau berinvestasi sehingga roda perekonomian berputar kembali.

Namun, kalau tingkat suku bunga sudah 0% tetapi ekonomi tetap terpaku diam dan tidak tumbuh secepat harapan, tentunya pusing juga. :-D

Padahal, seperti telah dijelaskan diatas, satu-satunya senjata bank sentral untuk melakukan kontrol terhadap peredaran uang hanyalah menaik turunkan tingkat suku bunga. Nah, kalau sudah 0% tentunya sudah tidak bisa turun lagi (masa jadi negatif :-D ).

Ekonomi US tidak bergerak (meski bunga sudah 0%) dikarenakan banyak negara yang menyimpan Dollar, terutama China. Sehingga meskipun bunga sudah 0% tetapi karena China cuek bebek tetap menyimpannya, maka ekonomi US pun akhirnya diam ditempat.

Jumlah uang beredar di dalam negeri US tidak mencukupi untuk mendongkrak perekonomiannya sendiri sebagai dampak banyak negara yang menyimpan Dollar.

Karena menurunkan tingkat suku bunga sudah tidak mungkin lagi maka dilakukanlah pencetakan uang baru dengan tujuan untuk menambah peredaran uang di dalam negeri US.

Mencetak lebih banyak uang biasanya adalah pilihan terakhir sebuah perekonomian. Dijadikan pilihan terakhir karena kalau sampai tidak terkontrol maka dampaknya justru akan menghancurkan perekonomian itu sendiri.

Tentunya kita semua masih ingat yang terjadi di Indonesia pada sekitar tahun 1960-an dimana terjadi hyper inflasi sehingga yang dilakukan oleh pemerintah adalah memotong nilai uang yang semula bernilai 1000 menjadi 1 Rupiah (dikenal dengan sebutan sanering) dengan tujuan untuk menghentikan tingkat inflasi.

Kesalahan pemerintah saat itu adalah mencetak lebih banyak uang guna menutupi defisit anggaran negara. Hasilnya, defisit anggaran negara berhasil ditutup tetapi dampaknya uang yang beredar menjadi terlalu banyak sedangkan ekonomi tidak tumbuh karenanya, maka terjadilah hyper inflasi.

Berbeda dengan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia saat ini, defisit anggaran negara ditutup dengan cara berhutang baik dalam bentuk berhutang langsung ke organisasi keuangan dunia (IMF), berhutang ke negara lain (biasanya ke Jepang), atau menerbitkan obligasi berupa Surat Utang Negara (SUN).

Menjawab pertanyaan Pak Iwan, obligasi adalah surat hutang yang diterbitkan oleh negara atau dapat pula diterbitkan oleh perusahaan. Menerbitkan obligasi lebih menguntungkan dibandingkan hutang bank dikarenakan pembayaran pokok maupun bunga tidak harus dilakukan tiap bulan, tetapi sesuai dengan perjanjian yang tertulis dalam surat obligasi tersebut.

Dengan cara seperti ini maka negara ataupun perusahaan memiliki cash flow yang cukup besar (sampai saat pelunasan obligasi) sehingga bisa lebih “sedikit bernapas” daripada kalau berhutang ke bank.

Pencetakan uang yang dilakukan di USA jauh berbeda dengan yang dilakukan di Indonesia tahun 1960. Tujuan pencetakan uang baru oleh The Fed digunakan untuk mendorong perekonomian dan bukan untuk menutupi defisit anggaran.

Dengan tujuan seperti ini maka diharapkan tidak akan menimbulkan dampak berupa hyper inflasi dikarenakan jumlah uang beredar juga dibarengi dengan pertumbuhan barang dan jasa.

Toh, di era sekarang urusan mencetak uang tidaklah serepot dahulu, yaitu harus mencetak fisik uangnya sehingga menyebabkan timbul biaya pencetakan yang mahal. Kalau sekarang ini yang dilakukan oleh The Fed hanyalah mencetak angka-angka secara elektronis.

Tetapi setelah pencetakan angka-angka tersebut selesai dilakukan, timbul masalah lain yaitu bagaimana cara mendistribusikan yang efektif sehingga dapat mendongkrak perekonomian tanpa menimbulkan gejolak inflasi yang berlebihan.

Cara yang paling efektif adalah mendistribusikan lewat bank. Hal ini dikarenakan bank merupakan jantung dari sebuah perekonomian dimana uang mengalir keluar masuk di tempat tersebut.

 

 

Dengan bank memiliki lebih banyak uang maka akan lebih banyak pula kredit yang dapat disalurkan sehingga pabrik maupun perusahaan akan mampu berproduksi kembali. Dengan adanya produksi maka dibutuhkan karyawan yang memperoleh upah. Nanti pada akhirnya upah tersebut akan kembali digunakan membeli barang dan jasa guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sehingga dengan cara demikian maka perekonomian akan berputar kembali.

Seperti diperlihatkan dalam gambar diatas, saat ini sudah mulai banyak yang mengantri untuk memperoleh kredit perbankan guna melakukan usaha di dalam negeri US – U.S. bankers voice new optimism as businesses line up for loans.

Dengan kredit mulai mengalir, maka pertanda ekonomi US mulai bangkit kembali sudah semakin jelas di depan mata.

Memperbanyak jumlah uang beredar di US itulah yang disebut dengan istilah Quantitative Easing atau QE. Dengan kata lain, The Fed berusaha memberi “kail” berupa memberi lebih banyak uang beredar (sehingga lebih banyak kredit disalurkan) agar perekonomian tumbuh lebih pesat.

Quantitative dapat diartikan sebagai kuantitas dan Easing dapat diartikan sebagai mempermudah. Kalau terjemahan bebasnya mungkin artinya adalah mempermudah likuiditas dengan kuantitas tertentu.

Disebut dengan kuantitas tertentu karena QE dilakukan secara bertahap yaitu QE1 (Desember 2008 – Juni 2010) $2 trilyun, QE2 (November 2010 – Juni 2011) $600 milyar, QE3 (September 2012 – Desember 2013) $85 milyar per bulan, dan QE4 (January 2014 – sekarang) $75 milyar per bulan.

Dengan kata lain yang lebih sederhana, QE sebenarnya adalah upaya The Fed untuk membuat negerinya yang beberapa tahun belakangan ini kering kerontang akibat krisis menjadi lahan yang subur. Oleh karena itu, dibuatlah “hujan buatan” yang dinamakan QE.

Berkali-kali “hujan buatan” telah dilakukan (QE1 s.d. QE3), tetapi tetap saja negerinya kering kerontang. Hal ini disebabkan yang menerima air hujan tersebut enggan untuk menanam di negerinya sendiri dikarenakan musimnya masih paceklik.

Mereka memilih untuk menanam di negeri lain yang tanahnya lebih subur dan juga iklimnya lebih bersahabat daripada di negeri sendiri.

Itulah kenapa sejak tahun 2007 – 2008, dana asing mengalir deras masuk ke negeri ini. Bagi yang awam tentunya akan sangat bangga dan mengatakan sambil menepuk dada bahwa “negeri ini sangat diminati oleh investor asing“. :-D

Padahal diminati investor cuma untuk sementara waktu, selama menunggu sampai negeri asalnya menjadi subur kembali. Kalau negerinya sudah subur kembali, ya tentunya air berupa Dollar tersebut balik lagi ke asalnya. :)

Itulah kenapa dana asing yang masuk ke negeri ini ditanamkan dalam bentuk saham dan obligasi pemerintah. Karena memang keperluannya hanya untuk sementara waktu saja.

Kalau negeri asalnya sudah subur kembali, ya cairkan semuanya dan kembali pulang kampung. :-D

Berbeda kalau negeri ini memang benar-benar diminati oleh investor, maka dana yang ditanam akan diwujudkan ke dalam bentuk infrastruktur berupa pabrik, gedung kantor, gudang, dsb. Dengan menanamkan infrastruktur maka tujuan investor tersebut memang benar-benar untuk jangka panjang.

Namun rupanya pemerintah tidak sadar akan hal ini dan tetap saja bertepuk dada bahwa “negeri ini sangat diminati oleh investor asing” tanpa memperhitungkan resiko nantinya.

Sekarang inilah kita semua mulai berhadapan dengan resiko yang sebenarnya dikarenakan dana asing sudah mulai bergerak kembali ke kampung asalnya dan negeri ini mulai kelimpungan karena kesulitan likuiditas.

Sedangkan istilah Tapering Off terjemahan bebasnya adalah mengurangi secara bertahap.

 

 

Seperti terlihat dalam gambar diatas – Fed Says It Will Begin Tapering Off Its Stimulus In January, Fed mulai melakukan pengurangan QE sebesar $10 milyar per bulan dimulai sejak Januari 2014 yaitu dari QE3 yang semula sebesar $85 milyar per bulan menjadi QE4 yang hanya $75 milyar per bulan.

QE4 sebesar $75 milyar per bulan akan dilakukan sampai pertemuan di tanggal 17 – 18 Maret 2014. Bila saat pertemuan tersebut ternyata perekonomian makin membaik dengan ditandai jumlah angka pengangguran (unemployment rate) sekitar 7%, pertumbuhan GDP (GDP growth) sekitar 2-3%, dan tingkat inflasi tidak melebihi 2%, maka nilai QE akan lebih dikurangi.

Selain itu, oleh FOMC tingkat suku bunga tetap dipertahankan berkisar 0% – 0,25% sampai dengan 2015. Pada tahun 2016 nanti, tingkat suku bunga akan dinaikkan tetapi tidak melebihi 2% – What Is Quantitative Easing?.

Dengan pengurangan QE (tapering off) maka Dollar yang selama ini diinvestasikan di luar US akan perlahan-lahan kembali ke asalnya. Negara-negara yang selama ini menggantungkan pertumbuhan ekonominya dari dana asing akan menjadi kelimpungan akibat likuiditas di negara tersebut menjadi berkurang.

Dalam bahasa sederhana, si penampung air yang selama ini menanam di negara-negara seberang mulai menyadari bahwa “hujan buatan” The Fed telah mulai berkurang. Hal ini dapat diartikan bahwa musim paceklik di negerinya sudah akan berakhir.

Buat apa The Fed terus menerus membuat hujan kalau tanahnya sudah mulai subur. :)

Nah, tentunya si penampung air tidak ingin ketinggalan kereta untuk mulai menanam di negerinya sendiri. Maka mereka beramai-ramai mulai menarik air berupa Dollar di banyak negara untuk ditanamkan di negerinya sendiri.

Itulah kenapa saat ini istilah Tapering Off menjadi momok bagi banyak negara karena dampaknya membuat kelabakan. :-D

Dollar selama bertahun-tahun sejak 2007-2008 telah menjadi “darah” bagi perekonomian negara-negara tersebut. Karena adanya “donor darah” berupa Dollar maka ekonomi negara tersebut dapat tumbuh berkembang.

Namun bayangkan bila sekarang mulai disedot balik, manusia saja kalau darahnya disedot bisa pingsan, apalagi sebuah perekonomian. :)

Saat membaca perihal QE, tentunya Anda juga sering mendengar istilah bahwa QE dilakukan dengan cara pembelian aset (buying assets). Apa sih maksudnya?

Buying assets adalah cara pendistribusian QE.

Dengan cara membeli aset yang tidak produktif (kredit macet) dari bank-bank besar maka pada akhirnya bank akan terbebas dari aset yang tidak produktif. Sebagai penggantinya, bank akan menerima dana segar (yang lebih produktif) yang nantinya dapat dipergunakan untuk memberikan kredit kepada masyarakat.

Nantinya bila ekonomi telah stabil, aset bank yang dibeli oleh The Fed akan dijual kembali kepada bank tersebut sehingga uang yang telah digelontorkan nantinya akan kembali lagi ke The Fed.

QE sebenarnya tidak hanya dilakukan oleh US. Pada tahun 2001, Jepang melalui Bank of Japan (BOJ) pernah melakukannya. Kemudian pada tahun 2009, Inggris melalui Bank Of England (BOE) dan Eropa melalui European Central Bank (ECB) juga melakukan QE dengan tujuan untuk mendorong perekonomiannya.

Dampak QE yang dilakukan oleh The Fed, tidak hanya dirasakan oleh Rupiah saja. Tetapi juga dirasakan oleh hampir seluruh mata uang. JPY terpuruk, bahkan hari ini CAD pun ikut-ikutan terpuruk – Dollar gains on Fed tapering view, hits 4-year high vs CAD.

 

 

Padahal fundamental ekonomi JPY maupun CAD jauh lebih kuat dan jauh lebih stabil daripada pondasi Rupiah.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana dampaknya terhadap negeri kita yang tercinta ini?

Tentu saja dampaknya adalah meningkatnya nilai tukar Dollar dikarenakan kondisi perekonomian US menjadi lebih cerah daripada sebelumnya.

Seperti kita ketahui bahwa dalam trading, analisa yang digunakan adalah analisa fundamental dan analisa teknikal.

Analisa fundamental dilakukan dengan cara menganalisa kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah negara tersebut (yang dapat dibaca pada berita) serta dampak yang ditimbulkan di masa mendatang. Dengan kata lain, analisa fundamental adalah analisa jangka panjang.

Kebijakan pemerintah tidaklah serta merta menjadi kenyataan di lapangan. Perlu proses dan waktu yang lama agar kondisi berubah sebagaimana diharapkan oleh kebijakan tersebut.

Seperti terlihat diatas, FOMC telah merencanakan nilai suku bunga sampai dengan 2016 nanti. Dari perencanaan seperti ini tentunya bagi yang paham akan perekonomian sudah dapat menebak ke arah mana ekonomi US maupun nilai tukar Dollar nantinya.

Sedangkan analisa teknikal adalah analisa jangka pendek. Selama proses menuju perubahan fundamental tersebut maka akan terjadi banyak sekali gelombang naik turun menuju perubahan tersebut. Disinilah gunanya analisa teknikal karena akhirnya dapat lebih dipastikan bahwa perubahan memang benar menuju ke arah yang dikehendaki atau tidak.

Dalam bahasa lebih sederhana, analisa fundamental adalah memprediksi tujuan akhir sebuah kebijakan. Sedangkan analisa teknikal adalah memantau proses yang terjadi menuju ke arah tujuan akhir tersebut.

Kalau digunakan perumpamaan, andaikan saat ini berada di Tanjung Priok, Jakarta kemudian dibeli tiket ke Tanjung Perak, Surabaya. Maka sudah dapat ditebak bahwa tujuannya adalah ke Surabaya (analisa fundamental).

Analisa teknikal adalah analisa yang dilakukan sejak saat tiket dibeli yaitu apakah benar akan menuju Surabaya. Bila sudah naik kapal, maka dilakukan analisa selanjutnya apakah kapalnya bisa sampai Surabaya atau tidak. Bila terjadi hambatan berupa cuaca buruk, maka akan dianalisa apakah tetap melanjutkan ke Surabaya atau malah balik pulang lagi. Dan seterusnya.

 

 

Karena itulah dalam analisa teknikal, gelombang selalu naik turun. Akan tetapi kalau fundamentalnya menuju ke atas maka gelombang yang naik akan selalu lebih tinggi daripada gelombang turun, seperti diperlihatkan oleh gambar diatas.

Saat ini sudah jelas fundamental Dollar menuju ke arah mana. Berkat adanya QE yang dilakukan berkali-kali oleh The Fed maka ekonomi US mulai pulih sehingga dapat diartikan bahwa nilai tukar Dollar akan terus menerus mengalami penguatan.

Tindakan The Fed berupa pengurangan stimulus (tapering off) merupakan konfirmasi yang sangat meyakinkan bahwa memang benar ekonomi US telah mulai pulih.

Analisa teknikal-nya juga sudah jelas, sebagaimana ditunjukkan pada gambar chart dibawah, terlihat kondisi saat ini menunjukkan up trend untuk USD dimana gelombang harga yang terjadi selalu menuju ke atas.

 

 

Dengan analisa fundamental maupun teknikal telah berjalan seiring maka kenaikan nilai tukar Dollar di masa-masa mendatang sudah tidak perlu diragukan lagi. :)

Seperti telah dijelaskan diatas, perekonomian akan berkembang bila didalamnya makin banyak uang yang beredar.

Dengan menggunakan prinsip tersebut maka BOJ, BOE, ECB, dan sekarang Fed melakukan QE demi memompa lebih banyak uang ke dalam perekonomiannya.

Di Indonesia pun sama, krisis 2008 segera pulih dikarenakan perekonomian Indonesia dipompa oleh dana asing yang masuk. Dana asing ini membeli saham dan obligasi pemerintah (Surat Utang Negara).

Oleh karena adanya dana tersebut maka perekonomian kita dapat melaju dikarenakan pemerintah tidak kesulitan pembiayaan karena obligasi yang dijual selalu laris manis.

Saham pun laris manis yang ditunjukkan oleh nilai IHSG yang melaju kencang sampai tembus ke nilai 5000. Tingkat suku bunga perbankan oleh Bank Indonesia selama bertahun-tahun dipertahankan di kisaran 6% dikarenakan dirasa masih belum perlu menaikkan atau menurunkannya.

Toh ekonomi masih melaju kencang, tidak ada gunanya dilakukan intervensi pemerintah. :)

Namun perhatikan yang terjadi sejak pertengahan tahun silam, nilai tukar Dollar mulai perlahan-lahan merambat naik. IHSG mulai anjlok tidak dapat melanjutkan kenaikan menuju ke atas. Pemerintah mulai kesulitan menjual obligasi, padahal pada tahun-tahun sebelumnya selalu laris manis, sekarang hanya laku 30-40% saja. BI mulai menaikkan tingkat suku bunga.

Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa dana asing mulai meninggalkan negeri ini. Dengan dana jauh berkurang maka ekonomi pun akan menjadi lebih suram.

Kenapa pada tahun-tahun sebelumnya dana asing mengalir deras ke negeri ini?

Dikarenakan kebijakan The Fed yang menurunkan tingkat suku bunga nyaris mencapai 0% maka para pemilik dana enggan menanamkan di bank. Mereka berusaha mencari tempat investasi lain yang memberikan imbal hasil yang lebih tinggi.

Kebetulan saat tersebut kondisi IHSG sedang up trend ditambah lagi pemerintah juga sedang gencar melakukan penjualan obligasi (yang imbal hasilnya jauh lebih tinggi daripada suku bunga The Fed).

Namun saat ini yang terjadi adalah kebalikannya yaitu kondisi perekonomian US akibat adanya QE mulai menunjukkan tanda-tanda membaik. Oleh karenanya aliran dana akhirnya berpindah arah, bukan lagi disebar di luar negeri tetapi mulai kembali ke dalam negeri US.

Padahal saat ini yang dilakukan the Fed hanya sekedar QE, bukan menaikkan tingkat suku bunga. Tetapi dampak QE ternyata sangat dahsyat bagi negeri ini yaitu nilai tukar Dollar langsung naik 27% (Januari 2013, 9600 Rupiah dan saat ini telah berada di nilai 12,200 Rupiah). IHSG anjlok cukup dalam dan obligasi pemerintah pun kurang diminati.

Bayangkan kalau sampai The Fed menaikkan suku bunga. Tentunya dana asing akan beramai-ramai balik lagi ke negeri asalnya karena imbal hasil disana jauh lebih menguntungkan dan juga jauh lebih aman.

Kalau seperti ini yang terjadi maka nilai tukar Dollar akan makin membumbung lebih tinggi daripada saat ini. :-D

 

 

Bahkan CNN – This could be the largest Fed stimulus yet – sebagaimana terlihat dalam gambar diatas, juga telah memprediksikan akan hal ini.

Bila The Fed makin memperkecil stimulus QE dengan melakukan Tapering Off maka negara yang mengalami krisis terberat adalah India, Brazil, dan Indonesia dikarenakan selama ini pertumbuhan ekonominya sangat tergantung kepada adanya aliran dana asing.

Yang diramalkan oleh CNN hanyalah pengurangan stimulus (tapering off) QE saja sudah akan membuat perekonomian negeri ini terpuruk.

Nah, bagaimana jika The Fed disamping meniadakan QE juga dibarengi dengan peningkatan tingkat suku bunga. Mungkin bukan terpuruk lagi, tetapi malah bisa-bisa tersungkur. :))

Ditambah lagi dengan kondisi pemerintahan saat ini yang sama sekali tidak melakukan antisipasi, tetapi hanya bereaksi kalau sudah terjadi. :-D

Perhatikan saja di televisi, begitu Dollar naik membumbung jauh tinggi barulah diterbitkan kebijakan baru untuk mengatasinya. Bukannya sejak awal saat Dollar masih merangkak perlahan-lahan naik sudah diantisipasi.

Oleh karenanya, jangan heran bila nantinya EA Andromeda menggunakan modal besar. Karena memang tujuan adanya EA Andromeda adalah untuk menyelamatkan dana milik sendiri sebagaimana sebelumnya telah ditulis dalam artikel: Broker EA Andromeda dan Real Account EA.

Apalagi seperti kita ketahui semua, kalau sebuah trend telah terjadi maka perlu waktu bertahun-tahun sebelum arahnya berubah menuju ke sebaliknya. Perhatikan saja trend EURUSD yang down trend sejak tahun 2008, kemudian trend emas (XAUUSD) yang sejak tahun 2011 juga mengalami down trend.

Sebaliknya, tren Rupiah pada tahun-tahun tersebut mengalami up trend. Seperti halnya dalam trading, tidak selamanya up trend akan terus menerus bertahan. Dengan kondisi kenaikan nilai tukar Dollar yang sudah mengalami kenaikan sebesar 27% sejak Januari 2013, tentunya sebagai trader juga telah paham bahwa kondisi up trend Rupiah telah berakhir dan saat ini telah digantikan dengan down trend.

Yang terjadi saat ini hanyalah sekedar awal dari sebuah down trend dan masih belum berada di titik terdalam. Karena biasanya saat mencapai titik terdalam, maka dibarengi dengan kepanikan yang terjadi dimana-mana. Kalau sekarang telah turun 27% tetapi suasana masih tenang-tenang saja, maka dapat disimpulkan bahwa saat ini hanyalah sekedar awal mula dari sebuah down trend. :-D

Toh lebih baik sedia payung sebelum hujan. Daripada tidak siap, masih mending kalau cuma sekedar basah kuyup, tetapi kalau yang terjadi sampai banjir dan akhirnya kelelep, khan tidak lucu. :-D

Ibarat gunung yang akan meletus, tanda-tanda berupa hujan abu (IHSG turun drastis), letupan-letupan kecil (obligasi pemerintah sulit dijual), timbul awan panas (tingkat suku bunga naik), adanya guguran lava pijar (pembatasan pembelian USD), hewan mulai berlarian menjauh (kondisi USD yang saat ini sedang up trend menjauhi Rupiah), sudah mulai terlihat dan dirasakan. Tinggal menunggu saatnya saja bagi gunung tersebut untuk benar-benar meletus.

Tanda-tanda diatas hanyalah sekedar tanda-tanda perekonomian yang mulai memburuk. Belum lagi kalau dilihat dari sisi sosial politik dimana tahun ini akan diadakan pemilu dimana membuat kondisi sosial politik menjadi lebih labil.

Adanya QE dari The Fed hanyalah sekedar gejala awal sebelum lonjakan trend yang jauh lebih besar benar-benar terjadi.

Namun, seperti kita ketahui semua saat melakukan trading, adanya up trend maupun down trend adalah hal yang biasa terjadi dalam sebuah mata uang.

Oleh karenanya, jangan diartikan bahwa down trend Rupiah adalah sesuatu yang menuju kepada kehancuran atau bahkan menuju kiamat. :-D

Nanti kalau sudah sampai titik terdalam maka trend akan berubah ke arah sebaliknya. Namun sebagai seorang trader yang sadar betul dengan hal-hal seperti ini, tentunya lebih baik memanfaatkan adanya trend tersebut agar tetap memperoleh keuntungan bagi diri sendiri. Apa gunanya menjadi trader kalau tidak bisa mencari profit.

Toh lebih nyaman menahan floating profit (dengan memiliki USD) daripada menahan floating loss (dengan memiliki Rupiah yang sedang down trend). :-D

Akan tetapi tentunya memiliki Dollar saja tidaklah cukup dikarenakan imbal hasil bunga bank yang sedemikian rendahnya. Disinilah fungsinya EA Andromeda yaitu agar imbal hasil yang diperoleh tetap tinggi sembari menahan floating profit dari kenaikan nilai tukarnya.

Nanti ada saatnya dimana trend akan berubah arah sehingga Rupiah menguat kembali dan mengalami up trend. Di saat tersebut maka lebih baik ubah semua Dollar kembali menjadi Rupiah agar turut serta menikmati keuntungan dari up trend Rupiah.

Selain itu, buat apa capek-capek menjadi trader forex kalau menganalisa serta mengambil keuntungan dari mata uang negeri sendiri saja tidak bisa. :))

Akhir kata, semoga artikel ini dapat memberikan banyak manfaat bagi Pak Iwan maupun para pembaca yang lain.

Semoga dengan artikel ini Pak Iwan serta pembaca lain akhirnya dapat lebih paham perihal pinsip dasar perekonomian serta kebijakan The Fed. :)

 

31 Comments

  1. suryadharma says:

    http://m.metrotvnews.com/read/2014/06/05/249339
    Bah ada apa gerangan :-D pantesan investasi di dalam negeri itu susah, kek gini pejabatnya

  2. Kalau mengikuti perkembangan beberapa berita fundamental terakhir, Rupiah terperosok makin dalam justru akibat negatifnya data perdagangan dimana lebih besar impor daripada ekspor dan anehnya bukan karena dampak pengurangan Quantitative Easing dari The Fed.

    Baca disini:
    Rupiah Kian Terperosok Atas Data Perdagangan RI
    Data Perdagangan Indonesia Masih Hantui Rupiah
    Rupiah Terpuruk Ke Level Terendah Dalam 3 Bulan

    Pertanyaannya sekarang, kok bisa lebih besar impor daripada ekspor? :)

    Ternyata penyebab utamanya adalah ini:
    UU Minerba Berjalan, Pendapatan Negara Berkurang Sementara Rp 60 T

    Pantas saja akhirnya lebih besar impor daripada ekspor, beginilah jadinya kalau asal-asalan membuat kebijakan. Sepertinya si pembuat kebijakan sama sekali tidak paham ilmu ekonomi maupun perkembangan ekonomi dunia, sehingga hanya akibat satu kebijakan yang sangat konyol akhirnya satu negara beserta ratusan juta rakyatnya turut menderita. :(

    Semangat nasionalisme boleh-boleh saja namun harus dilakukan dengan persiapan matang. Seharusnya bangun dahulu infrastruktur pertambangan berupa pengolahannya, kalau sudah siap barulah lakukan larangan ekspor. Nah ini masih kacau balau, masih belum ada persiapan apapun, tapi langsung saja lakukan larangan, ya sudah pasti akibatnya justru babak belur sendiri.

    Parahnya lagi tidak mewaspadai trend ekonomi dunia. Saat ini dana asing yang keluar cenderung lebih besar daripada masa sebelumnya dikarenakan adanya pengurangan Quantitative Easing dari The Fed. Kalau larangan diberlakukan pada masa-masa dana asing masih “banjir” disini maka tidak masalah. Namun kalau larangan diberlakukan sekarang saat dana asing mulai menyusut, ya sama saja dengan bunuh diri pelan-pelan karena defisit makin lama akan makin membesar.

    Padahal jauh-jauh hari sudah diperingatkan oleh Bank Dunia, eh… masih saja tetap ngeyel.
    Bank Dunia peringatkan kerugian larangan ekspor minerba

    Kalau seperti ini yang terjadi, maka dapat diperumpamakan sebelum tsunami beneran datang menghantam negeri ini (pengurangan Quantitative Easing dari The Fed), saat ini kita semua sebenarnya sudah kelelep duluan gara-gara kecemplung di lubang sumur yang digali sendiri. Benar-benar bodoh banget. :(

  3. Memantau chart USD/IDR (USD lawan Rupiah) rupanya sangat menarik. Contohnya adalah pergerakan harga yang tercermin pada candlestick terakhir dalam gambar dibawah ini, terlihat adanya intervensi menggunakan dana jumlah besar (mungkinkah Bank Indonesia?) dengan cara berupaya menekan pelemahan Rupiah (perhatikan “ekor” candlestick yang sedemikian panjangnya). Namun upaya tersebut gagal total karena USD tetap melambung ke atas sesuai dengan arah trend. :)

    • Malam ini acara di Metro TV ” Economic Challence ”
      Pak Chairul Tanjung juga memberikan Warning tentang jalan menanjak yang akan dihadapi oleh perekonomian indonesia kedepan akibat dari akan berakhirnya Quantitative Easing dari The Fed yang berdampak dengan penarikan modal asing yang akan kembali ke negeri US, :-D

  4. Terima Kasih Master infonnya :)

  5. Pak Anton CIMB Niaga kah yg terbaik buat nasabah

  6. Pak Irfansyah, jangankan 10.700, kemungkinan besar bahkan akan sampai ke 12.100. Apalagi kalau resistant 12.100 sampai berhasil ditembus, maka akan “terbang” makin jauh tinggi.

    Perhatikan saja 3 buah garis MA yang ada di chart milik Pak Irfansyah.

    Dari 3 garis MA tersebut terlihat kalau trend masih menunjukkan kondisi uptrend, penurunan yang terjadi hanya sekedar retrace, pergerakan retrace berhasil ditahan oleh support garis MA ke-2, dan saat ini harga mulai kembali bergerak ke atas. :)

  7. Setelah berminggu-minggu bertahan di resistant 11.300 – 11.400, hari ini terlihat Rupiah mulai bergerak meninggalkan resistant tersebut dan kembali melemah menuju support di sekitar 12.100. :)

    • Seperti telah diduga kemarin, hari ini kurs Rupiah makin melemah. :-D

      Berikut dibawah ini kurs Rupiah hari ini dari berbagai sumber. Terlihat juga dalam gambar dibawah ini, bank mana yang memberikan kurs terbaik bagi nasabahnya, :)

      • Sepertinya level 12.000 sudah semakin dekat nih Pak Anton :-D
        Dalam seminggu ini saya perhatikan nilai tukar rupiah perlahan semakin melemah terhadap dollar..
        Menurut Pak Anton dalam beberapa bulan kedepan akankah rupiah menembus level yang lebih rendah dari yang pernah ada sebelumnya?
        Mengingat dalam beberapa bulan kedepan negara kita akan menyelenggarakan pemilu seperti yang pernah Pak Anton jelaskan dalam artikel ini dimana di saat itu kondisi sosial dan politik akan menjadi labil,ditambah lagi pada bulan juli memasuki bulan ramadhan.

      • Situasi yang kita alami saat ini seperti situasi tahun 2007, krisis yang sebenarnya belum terlihat tetapi indikasinya sudah mulai nampak. Perhatikan saja Rupiah mulai kembali melemah, IHSG mulai merosot, jumlah transaksi buyer asing di BEI mulai mengecil, tingkat suku bunga BI mulai dinaikkan, devisa mulai mengecil, serta defisit neraca perdagangan mulai membesar.

        Sekedar prediksi (yang belum tentu benar), kemungkinan Rupiah makin merosot setelah lebaran nanti atau pada kuartal akhir tahun ini. Makin dalam merosot pada tahun depan nanti saat the Fed mulai menaikkan suku bunga USD.

        Hal ini bukanlah karena dampak dari kebijakan the Fed semata. Namun juga karena selama 5 tahun belakangan ini, yang dilakukan pemerintah hanyalah buang uang sia-sia di bidang politik seperti adanya Pilkada yang menghabiskan biaya trilyunan Rupiah. Bayangkan saja, kalau 1 daerah menelan biaya 500 milyar untuk Pilkada, berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk Pilkada di seluruh kabupaten, kotamadya, dan propinsi yang ada di negeri ini. Lebih konyol lagi, biaya sebesar itu bukannya menjadikan daerah tersebut menjadi lebih maju karena beberapa waktu kemudian kepala daerahnya malah ditangkap oleh KPK akibat korupsi. :-D

        Coba andaikan biaya untuk Pilkada dan biaya beli pesawat baru, digunakan untuk membangun infrastruktur, seperti perbaikan jalan dan jembatan, membangun jembatan Jawa-Sumatra dan Jawa-Bali, dibuat jalan tol baru, dibuat pelabuhan baru, dibuat pabrik baru, dan lain sebagainya, dimana manfaatnya tidak hanya dinikmati hanya pada saat ini saja, tetapi dapat dinikmati sampai anak cucu nanti karena roda perekonomian menjadi lebih maju, tentunya biaya sebesar itu tidaklah sia-sia. Apalagi katanya dana untuk Pilkada tersebut ternyata bersumber dari hutang yang terlihat dari kenaikan jumlah hutang pemerintah. Maka makin rapuh saja pondasi ekonomi negeri ini.

        Dengan pondasi ekonomi yang sangat rapuh akibat selama 5 tahun lalu menghambur-hamburkan uang untuk hal yang sia-sia, maka dampak nantinya harus dituai oleh kita semua dengan adanya krisis.

        Timbulnya sebuah krisis sebenarnya adalah dampak dari kesalahan yang selama ini dilakukan. Contoh, kalau suka mengamburkan uang untuk hal yang tidak berguna (seperti sering ke dugem), apalagi kalau uang tersebut asalnya dari hutang tentunya suatu hari nanti akan konyol sendiri karena pasti jatuh miskin.

        Krisis pada hakekatnya adalah alarm untuk mengingatkan diri kita agar segera berubah melakukan hal-hal yang lebih baik. Tidak mungkin sebuah krisis timbul kalau yang sudah dilakukan adalah hal-hal yang baik. Namun krisis tetap diperlukan agar kita semua menjadi lebih sadar bahwa yang selama ini dilakukan adalah hal-hal yang salah kaprah. :)

      • Irfansyah says:

        Mungkinkah setelah pemilu akan menyentuh Rp.10.700, atau hanya angan-angan belaka :mrgreen:

  8. Master bagaimana caranya mengelola aset/hasil dari profit forex, cara pembagiannya,misalnya berapa persen buat forex,berapa persen buat main saham,berapa persen buat inves di property,berapa persen buat beli logam mulia,berapa persen buat ditabung. :) Jali pengen tahu cara master mengeloala kkeuntungan dari forex market.biar bisa di contoh cara yg benarnya mengelola keuntungan yg akan menjdai kekayaaan kita.Tks. :)

    • Mengelola sesuatu tidak ada standarnya, harus berapa persen disini dan berapa persen disitu. Yang dipertimbangkan hanya 2 hal yaitu tingkat resiko dan tingkat potensi, kalau potensi lebih besar daripada resiko maka maksimalkan disitu.

      Yang sulit bukanlah mengelolanya, tetapi mempertimbangkan seberapa besar potensi dan seberapa besar resiko. Karena untuk dapat mengetahui 2 hal ini maka harus terlebih dahulu dimiliki keahlian mampu memprediksi apa yang akan terjadi di masa mendatang berdasarkan fakta-fakta yang sudah terjadi pada masa sekarang.

      Namun, sebelum mampu memprediksi dan kemudian mampu mengelola, ada hal lain yang lebih penting yaitu mampu mengendalikan hawa nafsu dan emosi. Kebanyakan yang berhasil memperoleh keuntungan (walau masih sedikit) tidak mampu mengendalikan ini. Begitu dapat duit, langsung beli handphone baru, beli motor baru, beli mobil baru, dll yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan. Nah, kalau caranya seperti ini bagaimana bisa keuntungan tersebut dapat menumpuk menjadi kekayaan yang nantinya dapat dikelola. :-D

      Seharusnya, ditabung saja dan beli yang benar-benar sangat diperlukan. Kalau handphone lama masih bisa dipakai, buat apa beli baru. Kalau jelas-jelas gaptek, buat apa beli handphone yang sangat canggih, toh perlunya cuma telpon dan SMS doang. Namun kebanyakan selalu ingin tampil “beda” dan ingin tampil lebih dibanding yang lain. Padahal, selalu ada langit di atas langit, jadi buat apa melakukan seperti itu karena pasti tidak akan ada habisnya.

      Oleh karena itu, yang Pak Jali perlukan saat ini bukanlah belajar untuk mengelola, tetapi belajar mengendalikan hawa nafsu dan emosi diri sendiri terlebih dahulu. Memang sepertinya sepele, tetapi tidak banyak orang yang mampu melakukannya. Padahal kalau mampu mengendalikan, disamping hidup dapat lebih tenang dan damai, juga akan membuat Pak Jali naik ke tahap selanjutnya yaitu akhirnya mampu menumpuk kekayaan yang nantinya dapat dikelola.

      Memang kata orang “harta tidak dibawa mati”, tetapi tentu lebih baik kalau saat ajal menjelang nanti kita bisa tersenyum karena yang ditinggalkan akan hidup berkecukupan berkat hasil kerja keras yang kita lakukan. Daripada sebaliknya, saat ajal menjelang kita malah ketakutan karena kepikiran yang ditinggalkan harus berat membayar hutang-hutang yang kita lakukan. :)

      • Iwan Martha says:

        Seperti kata Jordan Belfort dalam filmnya “Uang tidak hanya memberikan kehidupan yang lebih baik, tapi juga akan menjadikanmu orang lebih baik, bisa bermurah hati kepada siapa saja”.

  9. Total profit baru $ 8,768 wow oke bgt master.. :)

  10. Berusaha mempertahankan,berusaha memperoleh ,Tks Master kata2nya sungguh bijak,jali lagi berusaha ….biar bisa ikut numpang profit sama Master Anton. :)

  11. Jaman dulu, 1 juta dapat 110 dollar, sekarang dapat 82 dollar, selisih 18 dolar Pak.

    • ralat, maksudny selisih 28 dolar, lumayan juga ya Pak.

    • Sesuai prinsip trading, beli saat murah dan jual saat mahal. Kalau arah trend sudah jelas maka saat yang tepat untuk melakukan entry adalah pada saat terjadi retrace karena jauh lebih murah. Sehingga nanti saat trend sudah bergerak kembali ke arah semula maka profit pun sudah terjadi.

      Oleh karenanya mending beli USD sekarang saat sedang terjadi retrace daripada menunggu nanti saat trend telah kembali ke arah semula maka selisihnya akan makin besar lagi. :-D

      • sekarang hanya fokus bagaimana memperoleh aset (dollar) dari trading, belum sampai tahap melindungi aset, karena apa yg mau dilindungi, maklum pemula, hehehe

      • Dalam hidup ini yang kita semua lakukan hanya 2 hal saja yaitu berusaha mempertahankan dan berusaha memperoleh.

        Meskipun belum memperoleh aset berupa materi berlebih, tetapi kita semua sudah memiliki aset yang lain yaitu keluarga, teman, sahabat, istri/suami/pacar, kesehatan, ketekunan, semangat, kepintaran, kendaraan, uang tabungan, dan lain sebagainya. Kalau mampu mempertahankan yang sudah diperoleh saat ini maka biasanya secara otomatis akhirnya nanti juga dapat diperoleh lainnya yang belum dimiliki saat ini.

        Kebanyakan hanya fokus kepada upaya memperoleh tetapi melupakan upaya mempertahankan. Padahal, kalau saat ini saja sudah tidak mampu mempertahankan apa yang telah dimilikinya maka biasanya secara otomatis juga akan diikuti dengan ketidakmampuan untuk memperoleh yang baru.

        Oleh karena itu, sayangi dan hargailah yang sudah diperoleh, kemudian gunakan semaksimal mungkin sebagai modal untuk memperoleh yang belum dimiliki. :)

      • Dengan kata lain, kalo di akun demo saja masih rugi, maka jangan coba2 bermain di akun real,,hehehe.
        Terima kasih banyak atas sarannya Pak agar saya lebih berhati-hati menapaki minggu berikutnya, berusaha utk mempertahankan yg ada sehingga bisa mengulang seperti minggu sebelumnya.

  12. hmmm, baru awal aja udah selisih 2000 yah Pak.
    Apalagi akhir, makin nyekek aja nech kalo depo, hehehe.

    • Kalau Pak Irfansyah perhatikan kurs saat ini, terlihat kalau terjadi penguatan Rupiah. Jadi, deponya sekarang saja :-D

      Namun rasa-rasanya penguatan saat ini hanyalah bersifat sementara, sekedar retrace kecil dan setelah itu sepertinya akan melemah lagi.

  13. Iwan Martha says:

    Terima kasih pak atas penjelasannya pak Anton, sangat mudah dicerna soalnya saya kebingungan kemarin waktu membaca di situs ini:
    http://fokus.kontan.co.id/news/apa-itu-quantitative-easing-apa-itu-tapering
    kalau melihat di televisi waktu acara perbincangan dengan pemirsanya mengenai usah pemerintah untuk menahan laju dolar saya kadang geli sendiri kalau ada pemirsa yang menyalahkan si A itu korupsi si B itu korupsi, ini karena banyaknya kasus korupsi di indonesia makanya dolar naik :)) . Kenapa kok mereka tidak memberikan solusi hanya menyalahkan saja.

    • Jangankan Pak Iwan, saya pun kebingungan baca artikel di situs tersebut :))
      Penjelasan artikel tersebut tidak runut dan tidak sederhana sehingga sulit untuk dicerna.

      Dollar naik saat ini bukan karena banyaknya korupsi di negeri ini, tetapi hanya sekedar dampak QE The Fed. :-D

      Yang utama harus dilakukan di negeri ini seharusnya mulai membangun infrastruktur yang mendukung pertumbuhan ekonomi. Seperti mempermodern pelabuhan dan bandara agar kegiatan ekspor impor makin lancar dan cepat, membangun jalan tol serta jembatan antar pulau sehingga arus barang di Jawa, Sumatra, sampai Bali menjadi lancar, mengurangi impor tetapi sebaliknya mendorong serta memacu pertumbuhan ekspor dengan berbagai kebijakan maupun kemudahan kredit, dan terakhir memperbaiki sistem pabean, bea cukai, maupun perpajakan agar penerimaan negara makin meningkat.

      Sebanyak apapun korupsi diberantas tetapi kalau tidak segera dibangun infrastruktur pendukung pertumbuhan ekonomi (agar fundamental ekonomi menjadi lebih kuat) maka percuma saja.

      Pemberantasan korupsi hanyalah sekedar pembersihan di internal negeri ini agar tidak terjadi kebocoran dalam perekonomian. Sedangkan kalau ingin bertahan dalam persaingan global maka yang diperlukan adalah segera dibangun “jalan yang mulus dan lebar” menuju eksternal (dunia global). Jalan tersebut selama ini tidak dipedulikan sehingga sampai dengan hari ini masih juga jalan yang lama, yang sempit, tambal sulam, dan masih banyak lobang dimana-mana. :-D

      Ibarat aliran air, korupsi hanyalah kebocoran pada pipa. Sebanyak apapun lobang bocor dihilangkan, kalau pipanya tetap kecil maka yang mengalir demi pertumbuhan ekonomi negeri ini ya tetap saja kecil. Kalau ingin maju, seharusnya sudah dimulai pembangunan agar pipa tersebut makin besar. Dengan makin besar pipa, maka makin besar pula aliran air untuk pertumbuhan ekonomi negeri ini.

      Tetapi rupanya pemerintah lebih suka hanya melakukan pemberantasan korupsi (tanpa memperdulikan pembangunan pipa ekonomi). Karena pemberantasan korupsi jauh lebih seru untuk ditonton dimana ujung-ujungnya nanti agar “rating” pemerintah itu sendiri makin naik di mata rakyatnya sendiri. :-D

      Padahal yang benar, pemerintah yang baik adalah pemerintah yang berusaha menaikkan “rating”-nya untuk masyarakat global dengan cara melakukan pembangunan ekonomi agar pertumbuhannya melesat. Kalau hal ini dilakukan, maka dunia global akan menjadi segan. Dengan disegani secara global, otomatis juga akan disegani oleh rakyatnya sendiri.

      Negara hampir sama halnya dengan kehidupan sehari-hari, seseorang yang kaya tentunya jauh lebih disegani daripada yang miskin. :)

      Yang dikhawatirkan bukanlah saat ini, yang terkena dampak QE saat ini bukan hanya Indonesia tetapi global. Tetapi nanti saat QE telah ditiadakan dan FOMC menaikkan suku bunga, di saat itulah baru benar-benar kelimpungan karena likuiditas tersedot ke US. Di saat tersebut maka negara yang memiliki fundamental ekonomi kokoh akan mampu bertahan, sedangkan yang rapuh akan mengalami resesi.

      Kalau sejak awal negeri ini sudah dibangun infrastruktur yang berorientasi ekspor (“jalan yang mulus dan lebar menuju eksternal”) tentunya pada saat tersebut tidak akan kelabakan karena ekspor makin meningkat.

      Akan tetapi yang terjadi di negeri ini, “jalan yang mulus dan lebar” tersebut belum juga dibangun dikarenakan selama 10 tahun terakhir pemerintah sibuk menghamburkan uang trilyunan Rupiah demi urusan politik (seperti pilkada, pilgub, partai, dll). Pembangunan ekonomi sama sekali tidak diperhatikan. Sehingga dampak akibat menghamburkan uang di tempat dan untuk urusan yang salah akan segera dituai oleh kita semua.

      Yah semoga saja negeri ini selamat dan andaikan terjadi resesi semoga saja tidak memakan waktu terlalu lama. :)

      • Iwan Martha says:

        Saya juga berharap demikian pak, semoga Indonesia tidak akan terlalu parah terkena dampak QE nantinya.

  14. Terima kasih om buat tulisannya…bahasa mudah dicerna.. smoga om sering2 bahas istilah2 ekonomi yg sangat berguna untuk pengetahuan analisa fundamental…di tunggu tulisan pembahasan fundamental lainnya …. maju terus ayotradefx.com .. smoga profit selalu buat ea andromeda.. salam hormat om Anton..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

insert image dalam comment (JPEG only)