Stop Loss vs Cut Loss

Stop Loss vs Cut Loss

Posted by
This entry is part 3 of 3 in the series Money Management

Dalam melakukan trading, yang pertama kali dipikirkan bukanlah besarnya profit, tetapi berapa besar jumlah loss yang berani ditanggung.

Menentukan seberapa besar jumlah loss yang mampu ditanggung dapat didefinisikan sebagai pembatasan resiko.

Adanya pembatasan resiko ini sangatlah penting dikarenakan dengan demikian maka modal tidak langsung ludes akibat melakukan hanya satu kesalahan.

Apapun dalam hidup ini selalu memiliki pembatasan resiko, mobil atau motor memiliki rem, penerjun selalu membawa 2 buah parasut, pendaki gunung selalu menggunakan tali penyelamat, gedung selalu memiliki pintu darurat, pesawat tempur memiliki kursi pelontar, kapal laut memiliki sekoci penyelamat, dan berbagai hal lainnya.

Sangatlah konyol bila melakukan trading tetapi tidak memiliki rencana pembatasan resiko.

Seperti halnya gambar diatas, adanya pembatasan resiko dapat diibaratkan seperti pegangan hidup agar modal tetap selamat dan tidak langsung habis.

Terdapat 2 cara untuk melakukan pembatasan resiko yaitu:

    • Stop Loss (SL)
    • Cut Loss (CL)

Keduanya memiliki fungsi yang sama, yaitu bertujuan untuk membatasi jumlah kerugian. Dengan demikian, bila terjadi kesalahan maka jumlah kerugian tetap terkontrol sehingga modal tetap terjaga aman dikarenakan hanya tergerus sedikit akibat loss.

Meskipun keduanya memiliki tujuan yang sama, tetapi aplikasi keduanya berbeda.

SL memiliki nilai yang tetap sedangkan CL tidak.

SL sejak awal sudah ditentukan nilainya, misalnya SL 20 pip. Bila harga melawan arah entry dan akhirnya menyentuh SL, maka loss akan terjaga tetap sebesar 20 pip.

Berbeda dengan CL, yang selalu berubah-ubah. Bisa saja saat ini hanya 5 pip, kemudian selanjutnya adalah 30 pip. Hal ini dikarenakan melakukan CL sepenuhnya tergantung situasi dan kondisi saat melakukan trading.

Kebanyakan yang baru belajar trading, tidak begitu menyukai SL dikarenakan nilainya yang tetap. Mereka lebih menyukai CL karena lebih fleksibel.

Masalahnya sekarang, bagaimana bisa tahu kapan saat yang tepat melakukan CL, wong belajarnya saja barusan :))

Yang baru belajar biasanya menunggu sampai floating loss berkembang menjadi sebesar gajah terlebih dahulu, baru kemudian tersadar kalau telah salah.

Meskipun awalnya sudah berniat untuk melakukan CL, tetapi begitu melihat floating loss sudah segajah, maka pemikirannya berubah, bukan melakukan CL tetapi malah berdoa dan berharap agar trend segera balik arah.

Akibatnya sudah bisa ditebak, lama kelamaan floating loss tidak lagi sebesar gajah, tetapi berubah menjadi sebesar dinosaurus dan akhirnya account mengalami margin call. Modal pun langsung ludes hanya akibat satu kesalahan.

Ujung-ujungnya, timbul penyesalan, kenapa sih tadi tidak segera CL. Kalau segera CL khan modal masih tersisa banyak. :(

Maka dilakukanlah deposit ulang ke broker untuk mengisi modal. Dengan janji dalam hati bahwa tidak akan mengulangi lagi kesalahan yang sama.

Awalnya sih sesuai janji, tapi setelah 3-5 hari melakukan trading, mulailah timbul bisikan setan, kenapa juga harus CL atau SL melulu, khan sayang. Toh kemarin melakukan CL, akhirnya trend balik arah lagi.

Sudah ah, sekali-kali tidak SL atau CL, biarin saja, toh trend bakal balik lagi.

Heran ya, keledai saja tidak pernah tersandung di batu yang sama, tetapi kita ini kok selalu mengulangi kesandung di hal yang sama saat melakukan trading. :))

Akhir cerita, terjadilah MC lagi, terjadi penyesalan lagi, terjadi deposit ulang, dan terjadi juga pengulangan janji.

Begitulah seterusnya berkali-kali sampai akhirnya tersadar sendiri karena sudah tidak ada lagi yang bisa didepositkan ke broker. :))

Nah, dari ilustrasi cerita diatas, kalau bertemu dengan seseorang yang mengatakan lebih menyukai CL daripada SL, coba tanya lagi yang lebih detil.

Tanya saja, kapan CL dilakukan?

Jawabnya pasti selalu, kalau ruginya sudah besar.

Apa patokannya kalau rugi sudah besar? 10 pip, 20 pip, 30 pip, atau berapa?

Pasti tidak bisa jawab :))

Dengan kata lain, dia sendiri juga masih bingung dengan kriteria CL-nya. :-P

Kalau masih bingung, terus ngapain memilih CL. Itu khan namanya menyusahkan diri sendiri karena akan menambah-nambah bingung saja.

Kenapa tidak memilih menggunakan SL saja, yang sudah jelas pasti nilainya dan tidak perlu bingung-bingung lagi.

Tahukah Anda kenapa para pemula tidak begitu menyukai SL?

Karena untuk dapat efektif menggunakan SL maka diperlukan entry yang akurat. Kalau entry-nya masih amburadul, ya sudah jelas akan sering terkena SL. :))

Padahal solusinya mudah, kalau entry belum akurat, lebarkan saja SL-nya. Dan kemudian berusahalah untuk selalu disiplin dengannya.

Oleh karenanya, SL tidak begitu disukai oleh pemula dikarenakan memerlukan kedisplinan. Nah, kedisplinan ini yang belum dimiliki oleh pemula.

Menggunakan SL dapat diartikan sebagai memaksakan kedisiplinan kepada mereka.

Rata-rata pemula sangat menyukai melakukan trading dengan tidak disiplin, sepenuhnya mengandalkan emosi, dan juga sepenuhnya mengandalkan kepada keberuntungan.

Saat candle membumbung tinggi, langsung entry (karena mengandalkan emosi). Setelahnya berdoa, semoga terus naik. Begitu naik sedikit dan profit kecil, cepat-cepat exit. Langsung ketawa-tawa sendiri setelahnya, serasa sudah menjadi trader jagoan sedunia.

Hayo… tentunya Anda yang membaca artikel ini pernah mengalami masa-masa seperti itu. :))

Hal-hal seperti inilah yang disukai oleh pemula, karena membuat emosinya bergejolak. Padahal, yang tidak disadari oleh mereka, gejolak emosi adalah pembunuh account nomor satu.

Itulah kenapa kalau ditanya pilih SL atau CL, maka rata-rata jawabannya selalu memilih CL.

Tetapi begitu ditanya perihal kriteria CL-nya, malah bingung.

Dengan kata lain, mereka menjawab lebih menyukai CL karena belum mampu disiplin dengan SL. Tetapi juga tidak tahu kriteria CL-nya seperti apa. Nah, konyol khan. :))

Kembali pada prinsip SL dan CL diatas, telah dijelaskan diatas bahwa CL tidaklah memiliki nilai pasti. Tetapi bukan kemudian tidak memiliki kriteria yang pasti.

Untuk melakukan CL secara efektif, dapat digunakan indikator sebagai patokan.

Bisa digunakan Stochastic, MACD, MA cross, Parabolic SAR, atau berbagai indikator lainnya.

Misalkan digunakan Stochastic, entry dilakukan saat Stochastic telah benar-benar melakukan cross dan tanpa SL.

Kalau Stochastic tetap bertahan dan tidak melakukan cross sebaliknya maka exit tidak akan dilakukan dengan harapan semoga dapat menyentuh TP. Meskipun candlestick naik turun tidak karuan, tetapi sepanjang Stochastic masih menunjukkan cross sesuai entry, maka entry pun tetap dibiarkan.

Sebaliknya, kalau ternyata Stochastic melakukan cross berlawanan arah dengan entry, maka exit berupa CL harus segera dilakukan, tidak peduli berapapun jumlah floating loss-nya. Karena kalau tidak, maka floating loss akan makin membesar dan bisa-bisa menyebabkan MC.

Oleh karena itu, nilai CL selalu berubah-ubah dan tidak tetap sebagaimana SL. Karena bisa saja setelah entry dilakukan tiba-tiba indikator belok arah.

Nah, seperti itulah caranya melakukan CL yang efektif.

Bukannya menunggu sampai floating loss sampai sebesar gajah terlebih dahulu. Tetapi lebih dikarenakan indikator sudah “tidak bersahabat” dengan entry karena menunjukkan ke arah yang berlawanan.

Perihal lebih baik mana SL atau CL, terserah pada pilihan dan selera Anda masing-masing.

Yang utama bukanlah menentukan mana yang terbaik, tetapi pada kemampuan Anda untuk menerapkannya secara disiplin. Kalau hal ini dapat dilakukan, tentunya apapun pilihan Anda, SL atau CL, juga akan memberikan hasil yang baik dikarenakan pembatasan resiko selalu dilakukan dengan konsisten.

Semoga artikel ini dapat mencerahkan para pembaca.

 

Series Navigation<< Risk Management

19 Comments

  1. irfansyah says:

    entah kenapa, akhir2 ini saya cenderung menggunakan cutloss Pak, dalam arti yang menjadi acuan adalah harga closing pada titk tertentu untuk menutup sebuah posisi. namun jika ditengah jalan ada reversal atau jalan buntu, ya mau gak mau harus close, meskipun seringnya penasaran juga, :mrgreen: dan akhirnya loss2 juga dengan jumlah lebih besar :-D

    • suryadharma says:

      Kalau saya sependapat sama bang irfan, saya lebih condong menggunakan cutloss daripada stop loss, itupun tergantung strategi yang di pakai, bagi saya pribadi SL lebih condong di pakai untuk trading yang suka menggunakan trailing stop. sedangkan cut loss lebih condong di pakai jika menggunakan take profit. Semua memiliki kelebihan masing masing, dengan stop loss berubah ubah, dengan trailing stop kemungkinan profit yang dihasilkan bisa lebih besar. Itupun jika harga tidak nyenggol stop loss loh… hehehe… terkadang juga harga bisa nyenggol secepat kilat di TP. dan untuk membatasi kerugian ya sutra lah. cut loss sekian pip. intinya kan sama TETAP membatasi kerugian.

      • irfansyah says:

        Sip Pak Surya, makasih udah diperjelas,,

        begitulah market, sukanya mengejutkan alias SURPRISE ME :twisted:

        tapi kadang itu juga yang bikin asik, otak muter kaya mesin 6 silinder :-D

  2. irfansyah says:

    Neil Sedaka – Oh StopLoss

    oh, market, I’m really fool

    stoploss I love you

    don’t you treat me cruel

    you hurt me, and you make me cry

    but trading without you

    I will surely die

    stoploss, I will always trading with you

    cause I love you so

    don’t ever hit me

    say you’ll always go

    I will always use you in my best trade

    keep me from margin call

    oh stoploss

    I’ll always trade with youuuuuu

    • Berkat Pak Irfansyah, lama-lama Google akan menemukan situs ini bukan hanya sebagai tempat belajar forex trading saja, tetapi juga sebagai tempat gubahan syair lagu :-P

      • irfansyah says:

        Sambil iseng Pak,,
        udah berapa lagu ya Pak kalo di itung!
        Lupa gak ada back up ny disini Pak

      • irfansyah says:

        Album Kompilasi Trader’s Song
        :

        1. Kid Rock – Only Traders Knows Why
        2. R. Kelly – I Believe I Can Trade
        3. Rod Stewart – Trader
        4. The Bee Gees – How Can You Mend a Broken Trade
        5. D’lloyd – Sepanjang Sesi Eropa
        6. Stratovarius – Forever
        7. Neil Sedaka – Oh Stoploss
        8. Chicken Shack – I’d Rather Go Blind

      • irfansyah says:

        9. The Bee Gees – Don’t Forget to Remember Trend

        hehehe, baru saya inget2 lagi Pak, sejauh ini baru ada 9, nanti kalo ada ide saya tulis lagi deh Pak,, gak apa2 kan Pak

      • Sampai 1000 pun (asalkan kuat :)) ) tidak apa-apa kok, daya tampung situs ini tak terhingga, apapun dapat ditambahkan.

      • suryadharma says:

        Sebenarnya sih lagu yang pas itu cuma ada 2 pak….
        Queen – ‘We Are The Champions’ untuk trader sekelas pak anton
        Fun – ‘We Are Young’ untuk trader nubi sekelas saya
        wkwkwkwkw

  3. diondin says:

    wahhh pak anton, ini secara nda langsung saya kesindir nih, itu semua lagi terjadi pada saya. kemarin2 saya coba real DP $44.2 dalam waktu nda lama sdh bisa jadi $528, saya pake EA dan manual, itu semua ambruk dalam sekejap karena nafsu serakah di tgl 20 juli kemarin harusnya EU sell saya ambil buy terus,.. sekarang nih jadi nda PD lagi buat trading real, mohon suntikan spirit nya pak, biar aku jadi PD lagi trade real. buat lebaran nih, trims semuanya

    • Hehe…tidak nyindir Pak Dion kok, saya pun juga pernah seperti itu makanya bisa menulisnya. Saya rasa semua trader pasti pernah mengalami tahapan tersebut. Kalau saat ini tidak PD, jangan terjun dulu ke live. Lakukan demo trading saja sampai PD-nya timbul lagi dan barulah terjun ke live. Hanya itu obatnya. :)

      • diondin says:

        wah bercanda aja pak, aku kan sebetulnya dah sadar akan itu ( kl nda pasng SL ) tapi nekad tuh

  4. Akuur pak Guru….. akun demo saya hari ini runtuh, seperti runtuhnya Euro….. :))
    Saya sangat sadar bahwa hedging yang saya lakukan kemaren berbahaya. toh… saya nekat melakukannya.., SL…… susah sekali, meski teori mudah diucapkan, apalagi buat trader nuwbiee kaya saya…
    Artikel ini cocok sekali mengambarkan apa yang saya alami saat ini, saat lalu dan mudah-mudahan bukan untuk saat mendepan….
    Benar kata orang “Hidup memang tidah seindah kata M**** Te***” Kalau untuk trading, mungkin kata-katanya “Teori trading memang tidak semudah mempraktekannya’.
    Mohon pencerahnya pak Guru…. ^:)^

  5. Nah kalau artikel ini cocok sekali menggambarkan situasi saya :-D

    Stoploss memang membuat kesal apalagi SL nya terkena dan harga berbalik arah ,yang sebelumnya entry tersebut jika saja tidak dipasangi stoploss akan menghasilkan profit tapi dengan Stoploss malah jadi loss. Nah pada akhirnya entry berikutnya jadi enggan menggunakan Stoploss ., :))

    Semoga saja seiring berjalannya waktu, kedisiplinan kita pun semakin meningkat.,
    :)

  6. irfansyah says:

    SL x lot = Bobot keikhlasan dicopet

  7. Kurniawan says:

    Ada 1 kriteria lagi lho pak Anton ;)
    My MM is My MC. SL atau CL nya adalah MC itu sendiri, asalkan deposit nya sesuai dengan besar jumlah loss yang berani ditanggung dan telah diperhitungkan dengan matang. :))
    Peace ahhhh

    Salam, :)

    • Kurniawan says:

      Tapi saya sih bukan penganut paham itu pak. Cuma saya pernah baca di sebuah forum. :-D Trading stylenya swinger, tapi dengan TF D1 (kalau gak salah)

      Salam, :)

  8. moch.samuti says:

    Benar 100% apa yg dkatakan pa guru, saya seperti itu, setelah dibimbing sama guru sekarang saya sudah mengerti pentingnya SL, trims ya guru :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

insert image dalam comment (JPEG only)