Analisa Harga BBM

Analisa Harga BBM

Posted by
This entry is part 1 of 3 in the series Analisa Harga BBM

Artikel ini bukanlah dimaksudkan untuk ikut-ikutan demo menolak kenaikan harga BBM :)

Kita semua hanyalah sekedar trader dan tidak ikut campur dalam urusan politik yang ruwet.

Hanya saja bila melihat berita di televisi, demo sedemikian maraknya bahkan sampai di seluruh penjuru negeri ini.

Mari kita bersama-sama lakukan analisa terhadap harga BBM tersebut, kenapa pemerintah sampai sedemikian “ngotot”-nya untuk menaikkan harga BBM? Kenapa pemerintah cenderung tidak peduli dengan suara rakyatnya sendiri, padahal sudah jelas dengan naiknya harga BBM maka akan berdampak naiknya harga kebutuhan lain yang nantinya menyusahkan rakyat kecil.

Selama ini yang dikatakan pemerintah bahwa harga minyak dunia sudah diatas $110 sehingga perlu menyesuaikan harga jual BBM di dalam negeri agar jumlah subsidi tidak semakin membengkak. Bila jumlah subsidi semakin besar maka anggaran akan defisit dan negara akan terancam bangkrut (kok sedemikian parahnya ya negeri kita ini :) ). Untuk menghindari jumlah defisit yang makin besar, maka sejak sekarang harga BBM perlu dinaikkan. Begitulah alasan pemerintah :)

Minyak yang dijual di pasar dunia ada berbagai jenis yaitu: Crude Oil, Brent Oil, Heating Oil, London gas Oil, dsb.

Bila melihat harga yang dikatakan pemerintah adalah $110 maka yang dimaksud oleh pemerintah adalah harga Crude Oil (minyak mentah) yang saat ini berada di harga $102 per barrel-nya (Real Time Streaming Commodity Prices).

Hanya saja, katanya kita ini adalah salah satu negeri pengekspor minyak mentah terbesar. Sehingga akhirnya menjadi salah satu anggota OPEC.

Tetapi lucunya kok yang dipermasalahkan adalah harga minyak mentah dan bukan minyak yang sudah berbentuk barang jadi. Kalau yang disubsidi adalah minyak jadi, seharusnya yang dipermasalahkan adalah harga minyak jadi dan bukan minyak mentah (khan kita hasilkan sendiri).

Hal ini dapat diibaratkan seperti petani padi yang menghasilkan gabah/padi (minyak mentah). Dimana agar gabah dapat menjadi beras (minyak jadi/BBM), maka perlu proses tambahan berupa proses penggilingan untuk merontokkan kulit gabah/padi yang seringkali disebut sebagai proses slep (bila dalam hal minyak, maka prosesnya dinamakan proses penyulingan).

Pada saat terjadi kenaikan harga gabah, tentunya yang dipermasalahkan apakah harga beras juga turut naik seiring dengan kenaikan harga gabah atau tidak.

Harga gabah naik 10% maka harga beras pun naik 10%, tentunya tidak ada masalah karena kenaikannya seiring. Toh gabah tersebut dihasilkan sendiri sehingga adanya kenaikan harga beras akan dapat tertutup dengan kenaikan harga gabah.

Kalau harga gabah naik 10% tetapi harga beras tidak naik atau hanya naik sebesar 5%, maka petani akan diuntungkan karena dapat menjual gabah/padi dengan harga lebih tinggi. Beras yang dibeli untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dapat dibeli dengan harga lebih murah dikarenakan kenaikan harganya tidak seiring.

Terkecuali bila harga beras naik lebih tinggi tidak signifikan dengan kenaikan harga gabah. Misalnya harga gabah naik 10% tetapi harga beras naik sebanyak 15%. Disinilah baru timbul masalah dikarenakan terdapat selisih kenaikan harga.

Tetapi lucunya dalam masalah BBM ini, yang dipermasalahkan adalah kenaikan harga minyak mentah (harga gabah) dan bukannya harga minyak jadi (harga beras). Bukannya minyak mentah (gabah) tersebut kita hasilkan sendiri dikarenakan selama ini kita adalah anggota OPEC (petani padi)?

Namanya negeri penghasil tentunya tidak harus membeli dari luar negeri (impor), apalagi termasuk salah satu penghasil terbesar.

Toh tinggal diambil dari negeri sendiri, setelahnya diolah agar menjadi barang jadi, dan kemudian dijual lagi ke rakyat. Kenapa harus timbul subsidi dan kemudian panik dengan kenaikan harga minyak dunia seakan-akan kita bukan salah satu penghasil terbesar.

Justru kalau kita termasuk salah satu penghasil terbesar, seharusnya lebih memiliki kemampuan untuk mengontrol harga. Dan bukan sebaliknya seperti yang terjadi sekarang ini, kitalah yang dikontrol oleh harga sehingga timbul kepanikan luar biasa tiap kali terjadi kenaikan harga minyak mentah.

Padahal seharusnya, kita baru panik kalau harga turun karena sebagai salah satu penghasil terbesar tentunya akan merugi dikarenakan harga jual produk kita menjadi lebih murah daripada sebelumnya.

Kalau dipikir-pikir, sangatlah lucu sekali negeri kita tercinta ini, yang terjadi justru kebalikan dari logika seharusnya :))

Weekly Chart pergerakan harga Crude Oil adalah sebagai berikut:

 

Weekly Light Crude Oil – End of Day Spot Price
 

Bila diteliti lebih lanjut weekly chart diatas, terlihat bahwa harga crude oil saat ini bukanlah harga yang tertinggi.

Justru harga tertinggi telah terjadi sebelumnya yaitu pada pertengahan bulan April 2011 dimana saat itu harga mencapai $114 – $115. Sedangkan puncak harga tahun ini hanyalah sekitar $110 saja dan belum melebihi puncak harga yang terjadi pada April 2011.

Dengan membandingkan kedua puncak harga tersebut terlihat bahwa arah trend saat ini pun lebih memiliki potensi untuk turun (down trend) daripada naik (up trend).

Perhatikan juga MACD, terlihat bahwa saat ini crude bergerak flat dan bukan sedang menuju up trend. Garis histogram MACD hanyalah pendek-pendek saja dan tidak setinggi yang terjadi awal tahun 2010 (sisi terkiri indicator MACD).

Kalau yang terjadi seperti yang ditunjukkan oleh MACD di tahun 2010 maka wajar saja kalau pemerintah panik. Histogram MACD pada tahun 2010 sangatlah sempurna dan tinggi, menunjukkan up trend yang terjadi sangat kuat. Harga minyak dapat membumbung tinggi tanpa bisa diprediksi puncaknya terletak di harga berapa. Tentunya bila hal ini terjadi, defisit anggaran pemerintah akan sangat besar.

Tetapi faktanya, saat ini pergerakan harga lebih cenderung flat, MACD sudah menunjukkannya dengan jelas. Pergerakan flat seperti yang terjadi sekarang ini biasanya menandakan akan terjadi perubahan arah trend.

Dengan puncak harga tahun ini hanyalah sebesar $110 dan gagal menembus puncak harga tahun sebelumnya $115 maka kecenderungan arah trend akan menuju ke bawah. Candlestick, RSI, MACD seluruhnya kompak menunjukkan bahwa trend lebih cenderung akan turun daripada naik.

Nah, dari analisa diatas, kenapa pemerintah baru “ngotot” untuk menaikkan BBM sekarang?

Kenapa tidak dinaikkan pada bulan April 2011 atau Mei 2011 lalu saat harga minyak sedang tinggi-tingginya?

Kenapa harus dinaikkan sekarang, padahal kemungkinan besar trend akan turun?

Kalau harga BBM sudah terlanjur dinaikkan tetapi ternyata downtrend yang terjadi sehingga harga minyak cenderung turun terus menerus sampai 2-3 tahun mendatang, kemana larinya dana yang berasal dari kenaikan harga BBM tersebut?

Hanya pemerintahlah yang dapat menjawabnya :)

Lanjutan artikel perihal Analisa Harga BBM dapat dibaca disini: Analisa Harga BBM #2

Series NavigationAnalisa Harga BBM #2 >>

One Comment

  1. Iwan Martha says:

    karena sebagian subsidi akan dipakai untuk BLT (Bantuan Langsung Tunai)….
    Yang mengajari rakyat untuk tinggal makan bukan memberikan Pancing dan Umpan agar berlatih berusaha mencari makan.
    memang sebagian ada untuk bantuan modal usaha tapi urusannya terlalu berbelit2 sehingga tidak seperti yang diharapkan.
    Semoga warna politik negri kita lebih dinamis agar kacamata dunia melihat bahwa di indonesia banyak potensi yang dimiliki untuk berinvestasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

insert image dalam comment (JPEG only)