Sistem Trading untuk Pemula

Sistem Trading untuk Pemula

Posted by


Subject: Salam Kenal Pak Andromeda
From: Adi Pramono
To: Andromeda Trading Blog

Selamat siang Pak Andromeda,

Setelah hampir 6 bulan tidak mengunjungi blog Bapak, beberapa hari ini saya mulai mencari artikel-artikel di blog bapak tentang cara trading. Tetapi setelah saya perhatikan artikel di blog Bapak tidak mengupas tuntas hanya memberi garis besar, mungkin karena ilmu trading memang harus dilatih bukan hanya dengan membaca saja.

Beberapa hari ini saya juga membuka web Bapak di ayotradefx.com, tetapi saya rasa artikel tentang cara / sistem trading di web Bapak lebih berat materinya dari pada di blog Bapak.

Saya sudah mencoba di account demo sejak 9 bulan lalu, tapi walau pun ada account yang sukses profit terus tapi saya tidak merasa cocok dengan sistem yang saya gunakan karena memerlukan ketahanan yang tinggi sebelum kena MC. Akhirnya saya jenuh dan hampir 6 bulan tidak membuka artikel tentang trading atau membuka metatrader. Mungkin ini merupakan salah satu siklus belajar fores sesuai yang Bapak katakan.

Beberapa minggu ini saya mulai trading real dengan menggunakan dana kecil, saya sadar pasti akan kena MC jadi saya gunakan dana kecil untuk membuka account micro. Beberapa hari pertama saya bisa profit hampir 10 % perhari tetapi karena saya tidak memakai SL maka saya tergerus MC. Kadang saya juga tidak sabar melihat tren tanpa melihat konfirmasi candle terbaru untuk memastikan tren. Saya sadar harus menggunakan sistem trading yang cocok dan konsisten.

Apabila Bapak berkenan mohon bantuannya untuk memberikan gambaran sistem trading yang cocok untuk pemula seperti saya.

Sekian Terima Kasih

 


 

Pak Adi yang baik,

Sebelum menjelaskan lebih dalam ke permasalahan yang Pak Adi tanyakan dan juga agar tidak terjadi kerancuan perihal nama penulis artikel, ada baiknya bila dibaca terlebih dahulu artikel berikut: Human Proxy.

Sebenarnya apa yang Pak Adi tanyakan, sebelumnya sudah pernah terjawab dalam artikel-artikel berikut ini: Newbie/Awam/Pemula: Baca Artikel ini, Apa yang harus saya lakukan?, dan How to become a Trader?.

Yang Pak Adi katakan memang benar adanya, ilmu trading yang dibahas dalam artikel-artikel tersebut hanyalah garis besarnya saja.

Dalam mengajarkan sesuatu, agar lebih cepat dipahami, harus dimulai dari garis besarnya terlebih dahulu. Garis besar inilah yang seringkali disebut sebagai prinsip dasar. Tentunya kalau sudah paham betul prinsipnya, maka untuk mengarah ke hal lain yang lebih detil akan menjadi lebih mudah.

Bayangkan bila Pak Adi belajar tentang ilmu mesin, tetapi belajarnya dimulai dari cara kerja pengapian terlebih dahulu dan bukan dimulai dari prinsip dasar bagaimana mesin bekerja. Tentunya Pak Adi akan kebingungan setengah mati karena tidak paham apa gunanya belajar pengapian dan apa hubungannya dengan komponen yang lain.

Tetapi kalau sejak awal Pak Adi sudah belajar prinsip dasar bagaimana mesin bekerja maka Pak Adi akan menjadi lebih mudah memahaminya.

Pak Adi akhirnya paham agar mesin dapat menggerakkan sesuatu maka diperlukan berbagai komponen yaitu adanya bahan bakar, adanya pengapian, adanya piston yang memampatkan udara, adanya penghubung antara mesin dengan roda, dan adanya roda yang berputar. Sehingga kalau kemudian Pak Adi belajar perihal teknik pengapian maka akan menjadi jauh lebih mudah karena sudah paham prinsip dasarnya serta hubungannya dengan komponen yang lain.

Itulah kenapa dalam tiap artikel yang ditulis hanya garis besarnya saja. Soal detilnya, silahkan belajar sendiri dengan cara tekun berlatih. :)

Selanjutnya agar lebih mudah dipahami, coba sesekali Pak Adi nonton acara kompetisi memasak di televisi. Coba perhatikan bahwa semua peserta diberikan bahan makanan yang sama, bumbu yang sama, alat yang sama, dan waktu yang sama. Tetapi kenapa hasil akhirnya menjadi berbeda? Kenapa ada yang mampu menjadi juara dan ada yang tidak?

Sama halnya dengan trading, sehari-hari kita semua melihat chart yang sama, pergerakan harga yang sama, arah trend yang sama, dan bentuk candlestick yang sama. Tetapi kenapa menjadi berbeda hasilnya?

Perbedaan tersebut terletak pada sesuatu yang ada dalam diri kita masing-masing yang disebut sebagai keahlian.

Dalam ilmu memasak, sesorang yang ahli memasak dapat mengubah bahan makanan menjadi masakan yang lezat rasanya. Sedangkan dalam trading, dapat mengubah modal menjadi lebih besar jumlahnya.

Coba perhatikan kompetisi memasak, seseorang yang ahli biasanya sangat cekatan dan paham betul dengan apa yang dilakukannya. Sedangkan seseorang yang baru belajar, biasanya cenderung lamban dan serba kebingungan karena belum memahami apa yang akan dilakukannya.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana caranya agar dimiliki keahlian?

Tentu jawabannya adalah dengan cara tekun berlatih. :)

Berlatih dapat dipersamakan dengan berusaha “memprogram” diri sendiri agar memahami bagaimana cara mengerjakan sesuatu dalam berbagai situasi dan kondisi sehingga nantinya diperoleh hasil yang maksimal.

Dengan berlatih maka lama kelamaan dalam diri sendiri akan timbul persepsi baru, timbul disiplin diri, dan timbul pemahaman baru.

Contoh sederhana, saat awal belajar memasak dipahami bahwa agar menjadi empuk maka daging harus direbus selama 15 menit. Akan tetapi saat memasak daging kambing, meskipun sudah direbus selama 15 menit tetap saja alot.

Setelah dilakukan beberapa kali percobaan akhirnya diketahui (persepsi baru) bahwa hanya daging ayam hanya akan menjadi empuk bila direbus 15 menit, sedangkan daging sapi hanya empuk bila direbus selama 45 menit, dan daging kambing baru menjadi empuk bila direbus selama 90 menit.

Dari hal ini maka timbul disiplin diri bahwa daging ayam jangan pernah direbus lebih dari 15 menit kalau tidak ingin menjadi hancur. Atau sebaliknya, daging kambing jangan pernah direbus kurang dari 90 menit kalau tidak ingin alot.

Selain itu, akan timbul pemahaman baru ternyata daging tidak dapat dipersamakan perlakuannya karena masing-masing memiliki karakter yang berbeda.

Demikian pula dalam trading, Pak Adi harus memahami terlebih dahulu apa yang dihadapi saat ini, apakah yang dihadapi daging ayam, daging sapi, atau daging kambing.

Kalau yang dihadapi adalah daging ayam (ranging/sideways), maka “memasaknya” cukup singkat saja, karena kalau tidak bisa-bisa malah menjadi gosong (trend berbalik arah). Sedangkan kalau yang dihadapi adalah daging kambing (trend yang sangat kuat), nyantai saja karena biasanya perlu waktu lama untuk menjadi matang dan empuk.

Tentunya ilmu trading tidaklah sesederhana ilmu memasak karena dalam ilmu memasak perbedaan antara daging ayam, daging sapi, dan daging kambing jelas kasat mata dan gampang diketahui.

Dalam ilmu trading, Pak Adi harus belajar terlebih dahulu agar dapat membedakan yang tampil di chart saat ini apakah daging ayam atau daging sapi atau daging kambing. Tentunya bila sudah dapat membedakan maka penanganan selanjutnya akan menjadi lebih tepat.

Bila belum mampu membedakan, maka penanganan selanjutnya akan menjadi salah arah dan juga salah kaprah. Seperti seorang dokter yang berusaha mengobati pasiennya. Bila belum mampu membedakan, maka pasien yang hanya sekedar sakit flu malah diobatinya menggunakan metode kemoterapi, hasil akhirnya ya hancur :))

Definisi sistem adalah penggabungan alat dan cara (metode) agar dapat melakukan sesuatu dengan efisien sehingga diperoleh hasil maksimal.

Contoh sederhana, sistem mengepel lantai yaitu penggabungan alat pel dan metode yang efisien.

Alatnya, alat pel yang digunakan haruslah bersih dan mampu menyerap air maupun kotoran sebanyak mungkin. Air untuk mengepel haruslah mengandung disinfectan untuk pembunuh kuman, kalau ditambahkan pewangi juga akan lebih baik.

Metodenya, alat pel harus diayunkan sebanyak 2-3 kali ditempat yang sama agar lantai terjamin bersih. Mengepel dilakukan dengan cara berjalan mundur agar kotoran kaki pengepel tidak kembali mengotori lantai, dan seterusnya.

Dalam ilmu memasak maupun ilmu trading, sistem yang digunakan jauh lebih kompleks daripada sistem mengepel lantai dikarenakan adanya perbedaan yang dihadapinya pada saat tersebut.

Contoh dalam ilmu memasak, untuk merebus digunakan panci, untuk menggoreng digunakan penggorengan, dan bukan sebaliknya agar yang dilakukan efisien. Dalam trading, digunakan candlestick, trend lines, dan indikator agar dapat mendeteksi arah maupun kondisi trend sehingga nantinya dapat dilakukan entry exit yang tepat.

Coba Pak Adi perhatikan sekali lagi pada acara kompetisi memasak di televisi, adakah diantara sekian banyak peserta yang datang ke kompetisi dengan membawa panci atau penggorengan “sakti” miliknya?

Tentunya tidak penah ada, karena yang “sakti” bukanlah panci atau penggorengannya, tetapi dirinya sendiri yang menjadi “sakti” dikarenakan di dalam dirinya telah dimiliki sesuatu yang dinamakan keahlian. :)

Namun lucunya, dalam ilmu trading pemahaman yang terjadi malah sebaliknya. Yaitu banyak orang yang beranggapan bahwa terdapat indikator “sakti” atau sistem trading yang “sakti”, dimana bila digunakan untuk melakukan trading oleh siapapun maka mampu diperoleh profit yang luar biasa.

Mungkin yang kebanyakan belajar ilmu trading adalah para penggemar cerita silat, sehingga dalam pemikirannya kalau seseorang bisa menjadi jagoan maka sudah pasti memiliki jimat “sakti”. :-P

Kalau anggapannya seperti ini maka dapat dipersamakan bahwa yang menjadi juara dalam kompetisi memasak di televisi selalu menggunakan panci atau penggorengan “sakti” agar dapat menjadi juara.

Nah, dari penjelasan yang panjang lebar diatas, tentunya sekarang Pak Adi memahami bahwa tidak ada yang namanya Sistem Trading untuk Pemula atau bahkan Sistem Trading untuk Advanced. :)

Seperti halnya belajar mengemudi mobil atau belajar mengemudikan pesawat, tentunya tidak ada sistem mengemudi khusus hanya untuk pemula. Sistem yang digunakan sama saja baik untuk yang pemula maupun yang sudah berpengalaman. Masa kalau masih pemula maka sistem yang digunakan hanya setirnya doang dan menginjak pedal gas tidak boleh, mana ada khan? :))

Semua sistem sama saja, yang membedakan pemula dengan yang berpengalaman hanya masalah pemahamaan.

Yang sudah jagoan trading tentunya memiliki pemahaman yang jauh lebih baik dibandingkan Pak Adi dikarenakan mereka telah mampu membedakan antara daging ayam, daging sapi, dan daging kambing. Sedangkan saat ini Pak Adi masih belum paham.

Perbedaan tersebut bukan karena mereka lebih pintar atau lebih jenius dibandingkan Pak Adi. Tetapi yang benar, mereka memahami lebih banyak dibandingkan Pak Adi dikarenakan mereka belajar ilmu trading lebih dahulu dibandingkan Pak Adi dan juga lebih tekun berlatih dibandingkan Pak Adi.

Itulah kenapa antara mereka dan Pak Adi menjadi berbeda.

Perbedaan kedua terletak pada faktor psikologi. Dikarenakan lebih dahulu belajar dan lebih tekun berlatih, emosi mereka menjadi lebih matang dan lebih terkendali. Sedangkan Pak Adi masih belum mampu mengendalikan emosi yang terbukti dengan tidak sabaran menunggu konfirmasi candle terbaru.

Bila diperumpamakan pembalap, Pak Adi sudah langsung menekan gas dalam-dalam untuk ngebut padahal tikungan belum berakhir. Hal ini dikarenakan Pak Adi masih belum mampu membedakan mana awal tikungan dan mana akhir tikungan. Bayangkan kalau dalam kehidupan sehari-hari Pak Adi lakukan seperti itu, tentunya sudah berkali-kali kejebur jurang. :-D

Tapi hal tersebut tidak perlu dikhawatirkan, tentunya dengan tekun berlatih maka lama kelamaan psikologi akan terbentuk dan Pak Adi akan menjadi lebih sabar dalam menunggu candle. :)

Kesalahan terbesar Pak Adi adalah melakukan trading tidak menggunakan SL.

Dengan tidak menggunakan SL, meskipun hasil trading Pak Adi mampu profit 10% per hari, tetapi dalam jangka panjang nanti pasti akan mengalami MC. Yang Pak Adi lakukan, mohon maaf, adalah membentuk fatamorgana semu, yaitu melakukan trading yang awalnya seolah-olah jagoan karena mampu menghasilkan profit tetapi dalam jangka panjang nanti akan hancur.

Yang dilakukan seperti halnya menggunakan narkoba, awalnya indah melayang-layang serasa menjadi superhero, tetapi kalau terus menerus seperti itu maka dampaknya akan menghancurkan diri sendiri. :(

Pak Adi mampu menghasilkan profit 10% per hari tanpa SL hanyalah sekedar beruntung. Tetapi yang namanya keberuntungan, tidaklah selalu akan menemani, suatu saat pasti akan hilang. Itulah yang Pak Adi alami dimana trading yang selanjutnya dilakukan akhirnya malah “menewaskan” account karena faktor keberuntungan telah hilang.

Kalau kurang yakin, silahkan Pak Adi buka chart Weekly EURUSD, kemudian bayangkan seandainya Pak Adi melakukan Buy di pair EURUSD pada tanggal 13 Juli 2008 tanpa SL, tentunya sebesar apapun jumlah modal yang Pak Adi gunakan untuk menahan floating loss pasti akan sama sekali habis dan terkena MC.

Karena sampai dengan hari ini atau setelah hampir 6 tahun kemudian, EURUSD belum juga kembali ke harga 13 Juli 2008. :-D

Sebenarnya, meskipun tidak saya jelaskan pun, Pak Adi sudah menyadari dengan sendirinya bahwa sistem yang saat ini digunakan tidaklah baik dikarenakan selalu berakhir dengan MC. Namun Pak Adi masih bingung dan belum menyadari letak salahnya dimana.

Yang salah bukanlah karena digunakan SL, tetapi karena masih belum paham pergerakan trend. Prinsipnya, akibat belum paham maka SL-nya terkena karena entry yang dilakukan melawan arah trend. Tentunya bila entry searah dengan trend, maka SL pun tidak akan pernah terkena.

Yang saya terheran-heran, kalau Pak Adi sudah sadar nantinya pasti berakhir dengan MC, kenapa diteruskan melakukan trading di real account? Bukannya malah buang uang percuma? Tentu lebih hemat kalau berlatih dahulu di demo sampai yakin betul telah mampu konsisten profit.

Atau jangan-jangan Pak Adi sudah merasa banyak uang ya? Mangkanya tetap nekad buka real account meskipun sadar betul pasti MC :))

Yang Pak Adi jelaskan sebenarnya mirip dengan contoh merebus daging diatas, mungkin selama ini Pak Adi memiliki persepsi bahwa kalau digunakan SL maka akan loss melulu. Akibat adanya persepsi ini, maka selanjutnya timbul persepsi yang lebih baru yaitu diperlukan modal yang memiliki ketahanan tinggi agar tidak mengalami MC.

Nah, terlihat bahwa dari persepsi yang salah, akhirnya menimbulkan persepsi baru yang malah lebih salah kaprah dari sebelumnya. Kalau hal seperti ini diteruskan maka lama kelamaan Pak Adi akan bangkrut sendiri. :-D

Tetapi setelah dijelaskan diatas, akhirnya timbul persepsi baru yang lebih benar di kepala Pak Adi bahwa menggunakan SL jauh lebih baik daripada sama sekali tidak menggunakannya, karena tujuan adanya SL adalah untuk menyelamatkan account dari kehancuran MC. Karena seberapapun besar modal pasti tidak akan mampu melawan MC kalau entry yang dilakukan jelas-jelas berlawanan dengan arah trend (seperti contoh EURUSD diatas).

 

 

Sama halnya dengan contoh merebus daging diatas, setelah memperoleh persepsi baru maka untuk langkah selanjutnya, silahkan Pak Adi lakukan berbagai macam percobaan agar diketahui berapa kira-kira nilai SL yang cocok untuk sistem yang Pak Adi gunakan.

Satu hal yang pasti, belajar ilmu trading tidak dapat dikuasai hanya dalam hitungan bulan. Belajar ilmu trading hampir mirip seperti halnya kuliah, diperlukan waktu bertahun-tahun dimana pada umumnya perlu waktu minimal 5 tahun.

Bila Pak Adi merasa jenuh, silahkan beristirahat total, tidak apa-apa. Hal ini sangatlah wajar dikarenakan ilmu trading adalah sesuatu yang luar biasa sulitnya, sehingga kadang kala disamping membuat jenuh, juga membuat timbul perasaan putus asa.

Tetapi ada baiknya bertanya kepada diri sendiri, apakah memang cocok dengan dunia trading ini?

Kebanyakan yang belajar ilmu trading awalnya selalu mengejar impian untuk menjadi kaya raya dalam waktu singkat. Tetapi setelah terjun ke dalamnya, kemudian menyadari betapa sulitnya dan diperlukan waktu tahunan agar dapat menguasainya, akhirnya satu persatu mulai berguguran.

Hal ini sudah terbukti pada teman-teman saya maupun beberapa pembaca situs ini, berguguran dan pada akhirnya sama sekali melupakannya.

Disamping sulitnya ampun-ampunan, dunia trading adalah dunia yang sepi. Anda harus mampu duduk membisu berlama-lama di depan monitor sendirian. Tidak ada teman ngobrol sebagaimana layaknya kalau bekerja kantoran. Tidak ada kenalan baru. Tidak ada candaan saat makan siang bersama dengan teman sekantor.

Bila malam hari, tidak dapat jalan-jalan sore ke mall atau hang out dengan teman ke cafe karena pada malam hari US market sedang buka dan biasanya candle bergerak kencang.

Dan yang paling berat, hal seperti ini harus Anda lakukan selama bertahun-tahun rutin setiap hari melewati ribuan bahkan jutaan kali kegagalan sampai akhirnya nantinya menjadi trader jagoan.

Nah, sekarang coba tanyakan kepada hati masing-masing, mampukah Anda melakukan pengorbanan seperti itu dengan tujuan agar nantinya dapat menjadi trader jagoan?

Prinsip dalam kehidupan ini, Anda hanya akan memperoleh sesuatu bila Anda mampu mengorbankan sesuatu yang cukup dan memadai.

Contoh, bila Anda ingin memperoleh gaji maka Anda harus mengorbankan tenaga, waktu, maupun pikiran selama sebulan bekerja. Bila Anda ingin pintar maka Anda harus mengorbankan waktu dan pikiran untuk belajar sampai benar-benar paham.

Tidak ada yang gratis di dunia ini, Anda harus mengorbankan sesuatu demi memperoleh sesuatu yang lain. :)

Jadi jangan pernah berharap akan menjadi trader jagoan kalau yang Anda korbankan demi mencapainya hanya setengah-setengah saja. Perlu adanya dedikasi dan totalitas agar dapat segera tercapai.

Kalau pengorbanannya cuma setengah-setengah dan tidak total, maka yang ada hanya buang waktu semata karena perlu waktu yang jauh lebih lama. Bayangkan sekarang, kalau penuh totalitas saja perlu waktu minimal 5 tahun, berapa tahun yang diperlukan kalau upayanya cuma setengah atau bahkan cuma sepersepuluh :-D

Hal ini bukan untuk menakut-nakuti atau mengecilkan semangat, tetapi hanya sekedar saran demi kebaikan untuk lebih membuka wawasan agar Anda tidak buang waktu percuma.

Selain itu, coba pikir sendiri, kalau ilmu trading itu mudah dipelajari dan hanya perlu waktu singkat, tentunya saat ini sudah banyak sekali orang yang kaya raya berkat keuntungan dari trading. Tetapi coba lihat faktanya, banyak sekali bukan yang sudah bergulat belajar ilmu trading selama tahunan tetapi masih juga loss melulu :-D

Kalau Anda memang merasa cocok dengan dunia trading, maka silahkan teruskan belajarnya. Yang perlu diingat, sekali Anda memilih maka jangan pernah lagi terpikir untuk berubah pikiran, sesulit apapun yang harus dihadapi. Sama halnya seperti menikah, sekali berkomitmen maka jagalah komitmen tersebut sampai kapanpun.

Karena kalau sampai nantinya berubah pikiran, maka Anda hanya akan buang waktu sia-sia. Karena bila berubah pikiran, tentunya Anda akan pindah kepada bidang lain diluar trading dimana harus belajar lagi mulai dari awal alias dari nol.

Daripada rugi waktu seperti itu, bila saat ini sudah merasa tidak cocok dengan trading dan tidak mampu melakukan totalitas untuk belajar, tentunya lebih baik segera tinggalkan dan beralih ke bidang lain sejak sekarang. Tentunya hal ini jauh lebih hemat waktu dan lebih efisien.

Perlu diingat, waktu adalah sumber daya gratis milik kita semua tetapi jumlahnya terbatas. Tidak mungkin kita akan hidup selamanya. Oleh karena jumlahnya terbatas, maka gunakanlah sebaik dan seefisien mungkin, agar pada saat kita tua nanti, buah dari yang kita tanam sudah dapat dipetik.

Khan tidak lucu kalau saat sudah tua nanti ternyata masih juga belajar dan belum ada buah yang dapat dipetik akibat berkali-kali salah menanam bibit karena selalu berubah pikiran melulu. :-D

Pilih bibit (baca: bidang) yang cocok untuk diri sendiri, tanamlah, buat komitmen bahwa akan dilakukan totalitas demi merawatnya agar tumbuh tinggi besar, dan tekun memberi pupuk serta menyiraminya setiap hari tanpa jenuh dan putus asa meskipun perlu waktu bertahun-tahun.

Bila Anda mampu konsisten melakukan itu semua, suatu hari nanti tanpa Anda sadari, tiba-tiba bibit yang semula kecil sudah tumbuh tinggi besar dan mulai berbuah. :)

Namun bagi yang tidak merasa cocok dengan dunia trading, tidak perlu berkecil hati.

Tanpa harus mengorbankan diri untuk totalitas belajar sampai bertahun-tahun, Anda juga dapat menikmati manisnya keuntungan dari trading melalui situs ini.

Untuk lebih jelasnya, silahkan dibaca pada artikel ini: Real Account EA.

Semoga penjelasan panjang lebar diatas dapat lebih mencerahkan pemikiran maupun wawasan Pak Adi.

Akhir kata,
Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian,
selalu gunakan SL dahulu agar bersenang-senang kemudian
:-D

 

3 Comments

  1. saya masih newbi di forex gimana broker octaf bagus tidak buat oarang miskinterjangkau bismulai 5dollar gimanamaster anton :)

  2. reinaldy says:

    Pak adi jangan kawatir, Pak Adi punya teman kok yang masih belum bisa membedakan daging ayam sama daging kambing, bahkan saya sudah lebih lama belajarnya, masi juga belum bisa.. :)

  3. Iwan Martha says:

    Saya sama seperti pak Adi waktu tahun-tahun pertama mengenal forex, kalau anak remaja itu puber mencari jati diri. maunya serba instan asal keren dipake yang kadang tidak cocok dengan pribadi kita sendiri.
    Lambat laun saya mulai sadar setelah banyak membaca artikel di Situs ini bahwa prinsip dasar harus kita pelajari dulu agar teknik maupun indikator bisa kita sesuaikan dengan karakter diri kita,
    Trading itu 20% teknik dan 80% psikologi yang nantinya kalau kita bisa menerapkan itu 100% diri kita akan berubah baik dalam keseharian maupun dalam lingkungan (kalau untuk saya pribadi lebih disiplin :) ).
    saya juga masih dalam tahap pembelajaran, semoga tahun ini dan kedepan menjadi lebih baik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

insert image dalam comment (JPEG only)